BORNEONEWS, Palangka Raya - Balai Bahasa Kalimantan Tengah mengadakan lokakarya penulisan cerita anak dwibahasa yang berlangsung dari tanggal 11 hingga 15 November 2024. Acara ini diadakan di Aquarius Hotel, Palangka Raya, dan diikuti oleh 25 peserta dari berbagai latar belakang pendidikan.
Memasuki hari keempat peserta diajak menggodok naskah yang telah dikirimkan dengan diawasi langsung oleh mentornya.
Setiap naskah yang telah dikirimkan ke Balai Bahasa kemudian melalui proses editing mandiri oleh penulis, dengan dibimbing para mentor berpengalaman dari Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah.
"Hari ini jadwalnya kita memperbaiki sendiri naskah yang sudah masuk ke Balai Bahasa. Kan tiga hari kemarin kita sudah mendapat pelatihan, nah hari ini kita terapkan itu pada karya kita," kata salah seorang peserta, Syarah Veniaty kepada Borneonews pada Kamis, 14 November 2024.
Naskah-naskah ini diperbaiki lebih dahulu secara mandiri oleh penulis, kemudian masuk proses kurasi oleh mentor, dan dikembalikan lagi kepada penulis untuk proses editing.
"Jadi kita tidak mengeditkan langsung untuk peserta tetapi kita sampaikan ini kurangnya di sini dan di sana, peserta sendiri yang mengedit secara mandiri berdasarkan saran dan kritik dari kita," kata salah seorang mentor, Septiana Delaseniati.
Hal ini dilakukan agar penulis bisa mengetahui kesalahannya dan akan tidak akan melakukan kesalahan yang sama saat menulis lagi cerita anak yang berikutnya.
"Karena harapan kita kan penulis yang dilatih saat ini tidak hanya berhenti di sini tetapi akan bersemangat menulis lebih banyak lagi cerita-cerita yang berkualitas di waktu lainnya," tutur Septi lagi.
Sebelumnya, Kepala Balai Bahasa Kalteng, Muhammad Muis, membuka acara ini dengan sambutan hangat, menekankan pentingnya pengembangan literasi anak-anak melalui cerita dwibahasa sebagai upaya melestarikan bahasa daerah dan meningkatkan minat baca di kalangan anak-anak.
Selama lima hari, para peserta mendapatkan bimbingan teknis dalam menulis cerita anak menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Dayak Ngaju serta Dayak Ma’anyan. Kegiatan ini bertujuan untuk menghasilkan karya-karya yang tidak hanya menarik tetapi juga edukatif bagi anak-anak. Muhammad Muis berharap lokakarya ini dapat menjadi wadah bagi para penulis untuk berkarya dan berkontribusi dalam dunia literasi anak.
Dalam sambutannya, Muis juga menyoroti pentingnya peran cerita dwibahasa dalam memperkenalkan dan membangkitkan minat anak-anak terhadap bahasa daerah.
"Dengan adanya cerita dwibahasa, kita berharap anak-anak dapat lebih mengenal dan mencintai bahasa daerah mereka," ujarnya.
Para peserta diharapkan dapat melanjutkan menulis baik secara penuh waktu maupun paruh waktu setelah lokakarya ini berakhir.
Lokakarya ini tidak hanya memberikan pengetahuan teknis, tetapi juga inspirasi bagi para penulis untuk terus berkarya. Salah satu peserta, Syarah Veniaty, mengungkapkan bahwa pengalaman ini sangat berharga baginya.
"Saya merasa lebih percaya diri dalam menulis cerita anak setelah mendapatkan bimbingan dari para ahli,” katanya.
Syarah berharap dapat menerbitkan buku cerita anak dwibahasanya dalam waktu dekat.
Selain itu, lokakarya ini juga menjadi ajang untuk mempererat hubungan antar penulis dan berbagi pengalaman. Para peserta saling mendukung dan memberikan masukan konstruktif satu sama lain.
"Kami belajar banyak dari satu sama lain, dan ini sangat membantu dalam proses kreatif kami," ujar Syarah lagi. (TESTI PRISCILLA/H)









