BORNEONEWS, Palangka Raya - Kepala Desa Bungai Jaya, Kecamatan Basarang, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah Kadiman mengaku kecewa karena buah nanas belum pernah menjadi hidangan utama pejabat. Padahal, nanas merupakan produk unggulan yang dihasilkan warga lokal.
"Sayangnya, buah nanas belum pernah jadi hidangan pejabat kita. Justru lebih banyak dari luar. Malu mungkin dengan produk unggulan kita," kata Kadiman di ruang Kahayan III, Swiss-Belhotel, Palangka Raya, dalam dialog Restorasi Gambut Berbasis Tanaman Lokal di Kalteng yang digagas oleh Kemitraan Partnership bekerjasama dengan Yayasan Perspektif Baru, Selasa (6/9/2016).
Dia menilai, yang paling sering disuguhkan kepada para pejabat adalah buah anggur, apel dan kelengkeng. "Sebenarnya nanas ini perlu disuguhkan. Kalau pejabat malu makan buah kita sendiri, kapan dong buah kita akan dikenal," imbuhnya.
Selain sebagai kepala desa, Kadiman juga aktif sebagai seorang petani. Nanas sudah berkembang biak sejak puluhan tahun silam. Sebelum berkiprah untuk membudidayakan nanas, warga transmigrasi di wilayah setempat dulunya juga menanam padi.
Namun mereka sempat mengalami penderitaan lantaran gagal panen. Sampai-sampai mereka harus makan menggunakan nasi dengan bahan dasar singkong.
Kemudian mereka bertukar informasi dengan penduduk lokal. Lalu mereka mengolah lahan gambut. Ada beberapa tanaman buah yang ditanam, seperti buah rambutan, salak dan nanas.
"Nanas pernah berganti tiga bibit. Pertama nanas warna ungu atau tamben. Kemudian nanas besar tapi kurang manis. Dan akhirnya kita ganti dengan nanas madu. Ini sangat menghasilan. Buahnya tidak besar tapi manis," katanya.
Dia menambahkan, wilayah setempat aman dari kebakaran hutan dan lahan. Termasuk pada bencana Karhutla 2015. Menurutnya, daerah lain yang sibuk adanya Karhutla lantaran lahan gambut tidak digarap.
Sementara itu, selain Kadiman, pembicara dalam dialog tersebut adalah Tim Ahli Badan Restorasi Gambut I Nyoman Suryadiputra. Sekretaris TRG Kalteng Mursid Marsono, dan Peneliti Balai LitBang KLHK Banjarbaru Tri Wira Yuwati. (BUDI YULIANTO/m)








