BORNEONEWS, Seruyan - Suplai BBM bagi warga Kecamatan Hulu, Kabupaten Seruyan masih bergantung dari luar daerah. Meski harganya lebih mahal dari harga resmi yang ditetapkan pemerintah, karena tidak ada pilihan lain, terima saja. Beragam jenis barang kebutuhan mayoritas warga di sana pun, mengandalkan pasokan dari luar Seruyan.  

"Ini karena sampai sekarang belum ada suplai BBM yang bisa difasilitasi Pemkab Seruyan dengan harga terjangkau yang khusus diperuntukan bagi warga di Kecamatan Hulu ini. Ya, mau tidak mau, kita masih bergantung dari kabupaten lain," kata Rusnadi (46) kepada Borneonews saat berada di halaman Kantor Pos Kuala Pembuang, Rabu (7/9) pagi.

Rusnadi, warga Desa Buntut Sapau, Kecamatan Hulu, mengatakan, sampai sekarang kebanyakan warga di kecamatan itu, harus merogoh kocek lebih dalam, untuk mendapatkan BBM, sebab harganya lebih mahal dari ketetapan pemerintah.

Rusnadi menuturkan, BBM seperti premium (bensin) di sana, di tingkat eceran seringkali harganya tidak stabil. Namun itu tetap harus dibeli dengan harga mahal.  "Seliter premium, bisa dihargai Rp10.000 hingga Rp15.000 ribu per liter di tingkat pengecer. Maklum saja kalau harganya mahal, sebab jarak angkutnya sudah jauh duluan. Belum lagi biaya pengangkutan,” ujarnya.

Dia menyampaikan, baik premium ataupun solar harganya mahalnya, dipasok dari Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat. Untuk sebagian warga di Kecamatan Suling Tambun, perolehan BBM-nya dari Kabupaten Malawi, Provinsi Kalimantan Barat. 

“Sebenarnya warga mengeluh karena harus mengeluarkan biaya lebih untuk membelinya. Sekarang hanya bisa berharap, Pemkab Seruyan mampu memberikan solusi dapat memenuhi pasokan BBM bagi masyarakat di daerah Hulu dengan harga terjangkau," urai Rusnadi. (PARNEN/N).