KUALA KAPUAS –

BORNEONEWS, Kuala Kapuas - Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Disarpustaka) Kapuas, Suwarno Muriyat, memaparkan kebijakan dan program strategis penguatan roadmap literasi pada Rapat Kerja Teknis (Rakernis) Perpustakaan Tingkat Provinsi Kalimantan Tengah di Palangka Raya. 

Kegiatan ini dihadiri oleh peserta dari 14 kabupaten/kota, termasuk Kadisarpustaka, Kadisdik, Kepala Kemenag, Kabid, serta pemerhati literasi.

Dalam paparannya, Suwarno menjelaskan pentingnya Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan sebagai dasar pengembangan literasi. Ia menekankan bahwa perpustakaan berperan sebagai wahana pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, hingga rekreasi untuk meningkatkan kecerdasan bangsa.

 “Perpustakaan juga berfungsi untuk meningkatkan kegemaran membaca, memperluas wawasan, dan mencerdaskan kehidupan bangsa,” katanya, Rabu, 20 November 2024.

Sebagai langkah konkret, Pemkab Kapuas melalui Disarpustaka telah menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, seperti Bunda Literasi, Kepolisian, Kejaksaan, Rumah Sakit, Rumah Tahanan, Kemenag, sekolah, hingga organisasi masyarakat.

--page

"Puluhan perpustakaan desa di Kapuas tahun ini telah mendapat bantuan ribuan buku dan rak dari Perpustakaan Nasional agar akses bahan bacaan lebih representatif," ujarnya.

Digitalisasi literasi juga menjadi fokus, melalui pengadaan teknologi informatika, aplikasi iKapuas, Spot Baca, Pocadi, serta studio mini. 

Selain itu, pelatihan pustakawan dan sosialisasi akreditasi perpustakaan terus dilakukan agar perpustakaan memenuhi Standar Nasional.

 "Roadmap literasi ini menjadi panduan strategis untuk menjawab tantangan di era digital serta mengurangi kesenjangan perpustakaan antara kota dan desa," tuturnya.

Diskusi yang dipandu oleh Pustakawan Ahli Utama Dispursip Kalimantan Tengah, Dr. Guntur Taladjan, turut membahas berbagai permasalahan literasi.

--page

Tantangan seperti kualitas pustakawan, dampak teknologi terhadap literasi, akses sumber daya, rendahnya minat baca, hingga kurikulum yang belum mendukung, diangkat dalam forum tersebut.

Sebagai solusi, Suwarno mengusulkan kolaborasi dengan stakeholders, peningkatan jumlah pustakawan profesional, serta mendorong dunia usaha menyalurkan dana Corporate Social Responsibility (CSR) untuk meningkatkan budaya literasi. 

"Langkah ini diharapkan mampu menjawab berbagai kendala literasi sekaligus memperkuat peran perpustakaan sebagai motor penggerak literasi masyarakat," pungkasnya. (DODI/Y)