BORNEONEWS, Kasongan - Kepala Dinas Perhubungan, Telekomunikasi dan Informatika Kabupaen Katingan, Harun menuturkan masih banyak anak sekolah yang menggunakan transportasi sungai, atau air saat pergi-pulang sekolah. Kemungkinan daerah para pelajar ini, belum ada sarana jalan darat menuju sekolah.
"Hampir di 13 wilayah kecamatan yang ada, sejauh ini banyak pelajar yang menggunakan alat transportasi sungai untuk menuju ke sekolah masing-masing, terutama di DAS (daerah aliran sungai) Katingan," sebut Harun saat menghadiri Rapat Paripurna DPRD Katingan, di Kasongan, Rabu (7/9/2016).
Selain untuk menyeberang sungai, pelajar yang masih menggunakan transportasi air ini, mungkin daerah yang bersangkutan juga masih belum adanya sarana jalan darat menuju sekolah. Angkutan kelotok untuk pelajar itu, kata Harun adalah sarana transportasi milik masyarakat, dan bukan bantuan dari pemerintah daerah.
Pun demikian kelotok yang karam yang membawa siswa SMA Petak Bahandang, Kecamatan Tasik Payawan, di Sungai Katingan beberapa hari lalu juga adalah milik warga masyarakat.
"Kelotok yang membawa siswa SMA yang mengalami musibah tenggelam di Sungai Katingan beberapa hari lalu itu juga adalah milik warga setempat, dan bukan angkutan umum," tegasnya.
Harun mengaku jika kelotok yang digunakan sebagai angkutan umum setiap bulannya pasti ada pengecekan dari pihaknya mengenai kelayakan kelotok yang bersangkutan untuk operasi.
"Kalau dari hasil laporan kelotok yang karam yang membawa anak sekolah kemarin itu memang kondisinya sudah tidak layak pakai/operasi, tapi dipaksanakan, sehingga terjadi musibah tersebut, dan beruntung tidak ada menelan korban jiwa," katanya.
Sebenarnya berdasarkan aturan, lanjut Harun kelotok yang berkonstruksi kayu kekuatannya maksimal 5 tahun.
Makanya Dinas Perhubungan tidak merekomendasikan angkutan umum jenis kelotok ini yang sudah berumur lebih lima tahun itu.
Harun juga mengimbau kepada masyarakat, terutama pelajar yang masih menggunakan alat transportasi air/sungai ini agar selalu hati-hati dan selalu memperhatikan kondisi kelotok serta kapasitas penumpang disesuaikan jangan sampai over kapasitas.
"Soalnya beda kelotok membawa manusia dengan barang itu, karena kalau manusia kan bisa bergerak-gerak, sehingga kondisi kelotok tidak stabil, beda dengan kalau mengangkut barang," imbuhnya. (ABDUL GOFUR/N).








