SUKAMARA –

BORNEONEWS, Sukamara - Sosialisasi studi Enviromental Health Risk Assessment (EHRA) adalah upaya Pemerintah Kabupaten Sukamara untuk mengejar kabupaten/kota sehat.

Kepala Dinas Kesehatan Sukamara, Ari Junita mengatakan bahwa studi EHRA atau studi penilaian resiko kesehatan lingkungan adalah survei yang dilakukan untuk memahami kondisi sanitasi dan prilaku masyarakat ditingkat rumah tangga.

Sehingga pelaksanaan studi EHRA ini perlu dilakukan oleh kabupaten atau kota karena pembangunan sanitasi membutuhkan pemahaman kondisi wilayah yang akurat. 

Karena kita mengejar kabupaten/kota sehat dan studi EHRA ini perlu dilakukan karena ini menjadi salah satu indikator dalam penilaian tersebut," kata Ari Junita, Jumat 22 November 2024.

Menurut dia, kabupaten dan kota memerlukan studi EHRA karena terbatasnya pemahaman untuk dialog antara masyarakat dan pihak mengambil keputusan musrenbang. Dimana sering terjadi isu sanitasi dan hygiene masih dipandang kurang penting, hal itu terlihat dari prioritas usulan musrembang baik tingkat desa maupun kecamatan dan kota. 

"Isu sanitasi dan hygiene masih dianggap kurang penting sebagaimana terlihat dari proses usulan saat musrenbang," ucap Ari Junita.

Kepala Dinkes Sukamara tersebut menuturkan, bahwa studi EHRA diperlukan untuk menghasilkan data yang representative di tingkat desa dan Kecamatan sehingga dapat dijadikan panduan dasar, mengingat saat ini data terkait dengan sanitasi masih terbatas dan data umumnya tidak bisa dipecah sampai tingkat desa kelurahan. Selain itu data juga tidak terpusat melainkan berada di berbagai SKPD. 

"Tujuan kegiatan ini untuk mengetahui risiko Kesehatan melalui data yang dikumpulkan secara wawancara dan observasi untuk mengetahui kondisi fasilitas sanitasi dan higienitas serta perilaku masyarakat pada skala rumah tangga," tukas Ari Junita. (NORHASANAH/H)