BORNEONEWS, Palangka Raya - Budi daya buah nanas menguntungkan warga Desa Bungai Jaya, Kecamatan Basarang, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah. Tidak hanya warga setempat, para pengepul pun dapat merasakan hasilnya.

Adalah Misran, warga Barabai, Kalimantan Selatan. Pria 45 tahun ini sudah 12 tahun menjadi pengepul buah nanas jenis madu atau biasa disebut nanas Basarang. Selama kurun waktu itu, suami Hajah Rusiman, 44, ini mampu menyekolahkan anak hingga lulus kuliah.

"Anak pertama Rahmad Hidayat, 22, sudah lulus kuliah Kesehatan. Terus anak ke dua Risda, 14, masih kelas II Tsanawiyah," kata Misran ditengah aktivitasnya menaikan nanas ke dalam bak pikap kepada wartawan yang mengikuti kegiatan Journalist Trip Kemitraan dan Yayasan Perspektif Baru dalam agenda Restorasi Gambut Berbasis Ekologi dan Ekonomi di Kalteng, Rabu (7/9/2016).

Dia menuturkan, nanas tersebut ia beli dari petani setempat seharga Rp 3,5 ribu per buah. Kemudian dia menjual kembali ke para pengecer di Barabai, Kalsel seharga Rp 5 ribu. Selanjutnya pengecer bisa menjual sampai dengan harga Rp 7 ribu. Pengecer menjualnya ke kawasan batubara sampai ke Muara Teweh, Kabupaten Barut, Kalteng. Biasanya, nanas digunakan untuk pencok dan cicipan.

"Saya sudah 12 tahun jadi pengepul. Mulai dari 1 buah seharga Rp 100 rupiah sampai sekarang," ungkapnya.

Misran mengambil nanas dari para petani setiap tiga kali dalam seminggu. Namun terkadang juga empat kali. Dalam satu pikap, juga kadang semua milik satu petani terkadang pula tiga petani. Modal yang harus ia keluarkan sebesar Rp 4,5 juta. Sedangkan keuntungan bisa mencapai Rp 1 juta.

Sementara itu, salah seorang petani Rinda Riya, 40, mengatakan, baru dua tahun menggeluti usaha buah nanas. Saat ini dia mulai melakukan penanaman lagi.

Sebelum dilakukan penanaman, dia harus mengolah lahan dengan membalikan gambut lalu mencangkul sehingga posisi gambut berada di bawah tanah cangkulan. Namun ini tak mampu ia kerjakan. Caranya dia terpaksa mengupah orang lain. Kira-kira upahnya Rp 1 juta. Lahan sendiri dibuat tiga tabuk yang nantinya dalam satu tabuk ditanami 1.500 bibit nanas. Dalam satu bibit sendiri seharga Rp 500 rupiah.

"Panennya setelah satu tahun. Tapi panen pertama masih mengembalikan modal," tuturnya. (BUDI YULIANTO/m)