BORNEONEWS, Nanga Bulik - Pemerintah Kecamatan Belantikan Raya, Kabupaten Lamandau, minta kalangan LSM turut mencari potensi ekonomi masyarakat sekitar hutan. Mereka mendukung penuh jika sejumlah area di Belantikan Raya yang notabene masih dikelilingi hutan belantara serta hutan produksi, dilakukan penerapan best management practices (BMP) Prinsip pengelolaan dengan baik dalam upaya pelestarian satwa liar dilindungi.
Namun di sisi lain, pihak kecamatan juga berharap agar semua pihak berkepentingan termasuk para aktivis lingkungan, NGO (Non Government Organisation) yang dinilai cukup aktif bersuara dan berkampanye tentang pelestarian flora dan fauna, dapat juga berkontribusi nyata terhadap keberadaan masyarakat yang ada disekitarnya, utamanya dalam hal membuka peluang ekonomi masyarakat.
"Saya sangat mengapresiasi pemikiran-pemikiran luar biasa dari para LSM atau pegiat-pegiat lingkungan atas perhatiannya tentang pelestarian hutan dan satwa yang ada di dalamnya. Namun disisi lain, saya lebih berharap lagi jika adanya gagasan dan upaya-upaya pelestarian alam tersebut dibarengi dengan gagasan pemberdayaan masyarakat sekitar hutan," ungkap Camat Belantikan Raya, Aprimeno Sabdey, di sela-sela workshop pengelolaan hutan produksi lestari tentang penerapan Best Managemen Prasctice (BMP)/Prinsip pengelolaan yang baik dalam upaya pelestarian satwa liar dilindungi, yang digelar Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) model Lamandau, di Aula Hotel Putri Tunggal, Nanga Bulik, Selasa (6/9/2016).
Aprimeno juga menyebutkan, jangan sampai pihak terkait hanya konsentrasi terhadap pelestarian hutan, disisi lain manusia yang ada di sekitar hutan justru tidak diperhatikan. Padahal, kata dia, diakui atau tidak, masyarakat di sekitar hutan (masyarakat pedalam) justru selama ini sangat berkontribusi dalam menjaga keasrian hutan meskipun dengan cara-cara tradisional, meskipun tanpa pamrih dan tanpa sokongan anggaran.
Lebih jauh, kontribusi bagi masyarakat sekitar hutan yang dimaksud Aprimeno, bukanlah sejenis bantuan uang, makanan atau sejenisnya. Melainkan kontribusi berupa ide dan gagasan berkaitan dengan potensi dan peluang apa yang sekiranya tepat untuk membantu perekonomian masyarakat berdasarkan karakteristik alam di daerah/desa masing-masing.
"Misalnya, daerah A karakteristik alamanya masih murni dan memiliki madu hutan yang melimpah, daerah B memiliki potensi pengembangan produk alam khas tertentu. Tolong kami beri masukan, ide, gagasan atau bahkan teknis pemasaran dan lain-lainnya, sehingga masyarakat memiliki kegiatan yang juga berimplikasi pada peningkatan pendapatan tanpa merusak alam," bebernya.
Aprimeno bahkan mengaku, pihak pemerintah kecamatan akan sangat responsif dan senang jika NGO pegiat lingkungan justru memberi banyak saran dan gagasan kepada masyarakat.
"Meskipun, harus dimaklumi jika saran atau masukan positif yang diberikan tidak kemudian diaplikasikan seketika. Karena untuk merubah kebiasaan yang sudah mendarahdaging haruslah dilakukan dengan perlahan, berkesinambungan dan konsisten," katanya. (HENDI NURFALAH/N).








