BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) khususnya di Kabupaten Kobar tidak bisa dianggap remeh. Bencana kabut asap yang timbul dari lahan yang terbakar menyebabkan semua pihak waspada. Bahkan Presiden sendiri memerintahkan bencana kabut asap akibat karhutla tidak boleh terjadi.

 Jika masih terjadi, ancamannya kepala daerah dan peringgi TNI dan Polri alan dicopot. Di Kabupaten berjuluk Marunting Batu Aji, seluruh kekuatan dikerahkan. Dari mulai masyarakat di pelosok desa, Pemerintah daerah hingga kekuatan pasukan TNI dan Polri berjibaku mencegah dan menanggulangi Karhutla. Hasilnya, tahun ini karhutla bisa ditekan sedemikian rupa.

"Dari BPBD dan Damkar, BKSDA, Manggala Agni, Dinas Kehutanan, dan Dinas perkebunan memiliki 14 mobil pemadam kebakaran," ungkap Kepala BPBD Kobar, Hermon F Lion, Rabu (7/9/2016).

Tak hanya mobil pemadam kebakaran, peralatan mesin portable untuk memadamkan api di lahan yang terbakar, BPBD Kobar memiliki 32 buah mesin portable. Sementara itu, untuk urusan personil, BPBD dan Damkar menurunkan 50 petugas, manggala agni 35 orang dan Disnas Kehutanan 10 orang.

"Untuk situasi saat ini peralatan dan personil yang solid cukup memadai," ujar Hermon.

Dari TNI dan Polri, Kodim 1014 Pangkalan Bun dan Polres Kobar dan Polsek di tiap kecamatan, tak kurang dari 400 personil yang tergabung dalam satgas karhutla Kabupaten Kobar tahun 2016.

"Kekuatan pasukan TNI yang kami turunkan sekitar 200 personil," ungkap Dandim 1014 Pangkalan Bun, Letkol Inf Wisnu Kurniawan. Satgas Karhutla juga melibatkan TNI AU, AL, serta BMKG Pangkalan Bun. "Tufoksi BMKG menginformasikan cuaca termasuk hot spot," ujar Kepala BMKG Pangkalan Bun, Lukman Soleh.

Tak hanya penanganan dari daerah, pemerintah pusat melalui BNPB RI juga sudah menurunkan dua helikopter water bombing yang di piloti dua warga Australis untuk memadamkan api dari udara. Hasilnya, cukup efektif. Meski api penanganan api tidak kaligus padam, namun karhutla yang sudah terjadi di beberapa kecamatan di Kobar bisa tertangani dengan baik.

Kondisi alam juga mendukung, prakiraan puncak musim kemarau pada bulan September 2016 tidak menjadi momok menakutkan. Sebab, akhir-akhir ini sering terjadi hujan dengan intensitas ringan hingga lebat. Saat ini status Kobar tanggap darurat, bencana kabut asap yang mengerikan pada tahun 2015 lalu semoga tidak terulang. (CECEP HERDI/m)