BORNEONEWS, Kotim - Wakil Bupati Kotawaringin Timur, M Taufiq Mukri akan menginstruksikan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kotim memeriksa obat-obatan yang beredar di masyarakat, memastikan ada tidaknya peredaran obat palsu. Belum lama ini, Bareskrim Polri dan BPOM menggerebek gudang produksi obat palsu, di Balaraja, Banten.
"Kami belum mendapatkan laporan adanya peredaran obat palsu di wilayah Kotim, tetapi nanti kami minta kepala dinkes bekerjasama dengan BPOM untuk menelitinya. Serta menginstruksikan kepada jajarannya untuk aktif memeriksa obat-obatan yang beredar," kata Wakil Bupati Kotim, M. Taufiq Mukri, di Sampit, Kamis (8/9/2016).
Menurutnya, pemeriksaan terhadap peredaran obat-obatan penting agar masyarakt tidak membeli obat-obatan palsu. Begitu juga di pusat layanan kesehatan seperti Puskesmas dan Pustu jangan sampai mengadakan obat-obatan dari pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab, yang menjual obat-obatan terlarang dengan lisensi obat resmi.
"Apabila ditemukan toko atau penjual yang menjual obat palsu kami akan menindak tegas dengan mencabut perizinannya," tegas Taufiq.
Terkait obat palsu itu, Kapolres Kotim, AKBP Hendra Wirawan, mengatakan hal itu mengarah pada pabrik pembuatan obat-obatan yang masuk dalam daftar G seperti zenith karnopen dan sejenisnya. Sebab, nformasinya barang-barang itu beredar di Kalteng, Kalsel, dan Kaltim, yang rata-rata adalah obat-obatan yang masuk dalam daftar G. "Artinya yang selama ini kami razia berasal dari pabrik-pabrik seperti itu," kata dia.
Pihaknya berharap dengan terbongkarnya pabrik pembuatan obat palsu itu bisa memutus mata rantai peredaran obat daftar G. Sebab, peredaran obat-obatan ini sangat memprihatinkan karena sudah merambah semua wilayah dan pengedarnya pun dari berbagai usia, mulai dari ibu rumah tangga hingga siswa SD dan SMP.
Sedangkan obat-obatan lain yang sudah diidentifikasi BPOM dan Bareskrim Mabes Polri, lanjut Hendra, akan diteliti bekerjasama dengan dinkes setempat untuk masuk ke toko-toko obat yang ada di Kotim.
"Kami masih menunggu data resmi dari Bareskrim, namun sebelum itu dari kami juga sudah mulai melakukan identifikasi awal," kata Hendra. (M. RIFQI/N).








