BORNEONEWS, Sampit - Menjelang hari pencoblosan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak pada 27 November 2024, penjualan amplop di Kotawaringin Timur (Kotim) mendadak melonjak tajam.
Sejumlah toko alat tulis kantor (ATK) mencatat permintaan amplop yang tidak biasa dalam sepekan terakhir. "Mungkin sudah mulai sejak seminggu lalu, orang-orang mulai belanja amplop dan dengan jumlah lumayan banyak," ujar seorang karyawan toko yang enggan disebutkan namanya, Selasa, 26 November 2024.
Karyawan toko tersebut menambahkan bahwa penjualan amplop, baik jenis besar maupun kecil, dibeli oleh orang yang bukan bekerja di sebuah instansi atau perusahaan. "Kalau tidak salah, mereka membeli amplop besar dan kecil. Sepertinya bukan dari instansi," jelasnya.
Lonjakan penjualan amplop ini memunculkan dugaan adanya indikasi serangan fajar atau praktik politik uang. Terkait hal itu, pengamat politik dari Kotim, Wira Prakarsa Nurdia, menyatakan bahwa politik uang atau serangan fajar memiliki dampak buruk bagi masyarakat atau pemilih dalam Pilkada.
"Dampaknya bisa merusak integritas demokrasi karena keputusan pemilih dipengaruhi oleh uang, bukan kualitas calon," ujar Wira.
--page
Ia menjelaskan bahwa praktik politik uang ini berpotensi menghasilkan pemimpin yang kurang kompeten dan bahkan membuka peluang bagi tindakan korupsi.
"Mereka merasa berhak untuk kembali memperoleh uang yang telah mereka keluarkan dengan cara yang tidak etis," tambahnya.
Selain itu, Wira menyoroti bahwa politik uang juga memperlebar kesenjangan sosial dan melemahkan kepercayaan publik terhadap sistem politik.
"Publik nantinya hanya melihat nilai uang, bukan lagi kapabilitas para kandidat," tutur Wira. (DEVIANA/Y)









