BORNEONEWS, Palangka Raya – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menargetkan studi Land Acquisition and Resetlement Action Plan (LARAP) atau laporan analisis dampak sosial lingkungan tahap I Bendungan Muara Juloi dapat segera diselesaikan.
Kepala Balai Wilayah Sungai Kalimantan II, Ferry Syahrizal, menyampaikan bahwa proses studi dilakukan untuk memastikan kejelasan data terkait pengadaan tanah dan pemindahan masyarakat terdampak. Hingga saat ini, sekitar 50 persen area genangan sudah selesai didata.
“Diharapkan dari studi Larap ini kita benar-benar mendapatkan informasi yang jelas untuk pengadaan tanah maupun pemindahan, karena areal tersebut nantinya akan menjadi area genangan,” kata Ferry Syahrizal di Palangka Raya, Selasa, 26 November 2024.
Ia menjelaskan luas area genangan tahap pertama hampir mencapai 45 ribu hektar. Studi lanjutan Larap Tahap II akan mengintegrasikan data sehingga menjadi satu kesatuan yang solid.
Bendungan Muara Juloi digadang-gadang menjadi proyek prioritas nasional dengan berbagai manfaat seperti pengendalian banjir dan penyediaan energi listrik.
--page
Bendungan ini juga diharapkan menjadi destinasi wisata baru yang meningkatkan pendapatan asli daerah. (HERMAWAN DP/Y)









