BORNEONEWS, Kuala Kapuas – Edukasi kesehatan dari RSUD Kapuas melalui siaran RSPD turut menyoroti hubungan antara penyakit GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) dan stress.
Menurut dr. Erny Indrawati, meski GERD dan stress memiliki gejala berbeda, keduanya saling terkait.
"Stress atau gangguan kecemasan dapat memicu berbagai penyakit, termasuk GERD," katanya, Sabtu, 30 November 2024.
Beberapa riset menunjukkan bahwa stress dapat memperburuk gejala GERD, seperti nyeri dada, mual, dan sensasi terbakar di dada.
Sebaliknya, gejala GERD yang kambuh dapat memicu gangguan emosional pada penderita.
GERD terjadi karena paparan asam lambung yang sering ke esofagus, akibat melemahnya katup di kerongkongan.
Faktor lain seperti konsumsi kopi, makanan pedas, atau kebiasaan merokok turut memperburuk kondisi ini.
"Untuk mencegah GERD kambuh, penting bagi individu untuk mengelola stress dengan baik, selain menjaga pola makan dan gaya hidup sehat," tuturnya. (DODI/j)









