PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Empat mahasiswa MBKM Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara atau USU mempresentasikan perkembangan penelitiannya di hadapan peserta Forum Discussion Group atau FGD pada hari Sabtu, 30 November 2024, di Hotel Grandhika, Setia Budi, Medan.

Keempat mahasiswa tersebut adalah Erliani Simatupang, Wina Wardani, Marto Josua Bondar, dan Manna Mulia Nengsih Simanjuntak. Mereka dibimbing oleh Arif Nuryawan, dengan pendamping masing-masing Dr Iwan Risnasari, Dr Anita Zaitunah, Dr Pindi Patana, dan Dr Arida Susilowati.

Tema penelitian yang diangkat oleh keempat mahasiswa tersebut adalah Arboretum USU sebagai sumber produk kreatif, utamanya zat warna alami, stok/cadangan karbon, kayu energi (bio-energi), dan sumber pangan dan pakan. Penelitian ini dibiayai oleh konsorsium USU, Universitas Jambi, dan Wageningen University Research melalui TALENTA – USU.

"Penelitian ini bertujuan untuk memetakan, mengklasifikasikan, mengidentifikasi, dan menghitung potensi Arboretum USU dalam berbagai aspek," ujar Arif Nuryawan dalam keterangan resminya kepada Borneonews pada Minggu, 1 Desember 2024.

Paparan progress report penelitian ini mendapat masukan dari peserta yang hadir, tidak hanya terkait penyempurnaan metodologi, tetapi juga teknik pelaporannya seperti penulisan nama ilmiah, dokumentasi, dan kerja sama di lapangan saat melakukan analisis vegetasi. Masukan tersebut disampaikan oleh Dr Kansih Sri Hartini, Dr Nelly Anna, dan Novita Anggraini.

"Masukan ini sangat berharga untuk meningkatkan kualitas penelitian kami," kata Erliani Simatupang.

Sebelumnya, FGD telah dilaksanakan pagi harinya yang mengetengahkan latar belakang penelitian Arboretum USU, pesan dari Wakil Rektor 3 bidang penelitian, pengabdian, dan kerja sama mengenai penelitian konsorsium tentang biodiversitas. Salah satu topik yang dibahas adalah apakah Arboretum USU bisa ditanami tanaman obat khas Sumatera Utara seperti Taxus sumatranus.

"Kami berharap penelitian ini dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan biodiversitas di Sumatera Utara," ujar Prof Poppy Anjelisa Hasibuan.

FGD juga membahas kejelasan pengelolaan Arboretum USU sehingga tidak terjadi perambahan dan penebangan, penelitian fauna (burung dan biawak), ekowisata, dan pembibitan.

"Arboretum sejatinya adalah koleksi tanaman baik endemik maupun introduksi, sehingga pengelolaannya harus jelas dan terstruktur," kata Dr Pindi Patana.

Diskusi ini menghasilkan rekomendasi untuk memperjelas tata batas kawasan dan perizinan penelitian di Arboretum USU.

FGD ini dihadiri oleh pemerhati, dosen, dan peneliti, serta Wakil Dekan 2 dan 3 Fakultas Kehutanan USU yang mendukung pengelolaan Arboretum USU oleh Fakultas Kehutanan USU.

"Lokasi Arboretum yang berada di samping Kampus Fakultas Kehutanan USU Kwala Bekala Deli Serdang sangat strategis untuk penelitian dan pendidikan," ujar Dr Tito Sucipto, Ketua Program Studi Kehutanan S1.

Dr Samsuri, Ketua Program Studi Kehutanan S2, juga turut hadir dalam FGD ini. Dalam FGD ini, dipresentasikan pula lima presentasi utama yakni State of the Art Penelitian Arboretum USU oleh Arif Nuryawan, Sejarah Arboretum USU oleh Prof Abdul Rauf, Arboretum USU dulu, sekarang, dan masa mendatang oleh Prof Rahmawaty, Pemanfaatan Arboretum USU di masa depan oleh Dr Pindi Patana, serta Penelitian Arboretum USU saat ini oleh Hardiansyah Tambunan. Sesi ini dilanjutkan dengan diskusi yang menghasilkan rekomendasi, antara lain perlunya pengelola tetap Arboretum USU, tata batas kawasan yang jelas, serta perizinan penelitian dan akses ke kawasan Arboretum USU yang perlu diperjelas dan dipertegas.

Setelah rehat ishoma, acara dilanjutkan dengan presentasi progress report dari empat mahasiswa MBKM.

Tema yang diangkat meliputi Arboretum USU dan produk kreatif oleh Erliani Simatupang, Arboretum USU dan karbon stok oleh Wina Wardani, Arboretum USU dan bioenergi oleh Marto Josua Bondar, serta Arboretum USU dan pangan hutan oleh Manna Mulia Nengsih Simanjuntak.

Diskusi berjalan hangat dan konstruktif dengan kontribusi dari berbagai pihak.
FGD ini ditutup oleh Wakil Dekan 3 Fakultas Kehutanan USU, Prof Agus Purwoko, yang menyampaikan pentingnya data Arboretum yang detail.

"Data Arboretum yang lengkap dan akurat tidak hanya penting untuk publikasi, tetapi juga untuk menjadikan Arboretum sebagai etalase kampus Fakultas Kehutanan USU," ujarnya.

Dengan adanya data yang komprehensif, diharapkan Arboretum USU dapat menjadi pusat penelitian dan pendidikan yang unggul.(TESTI PRISCILLA/R)