PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Dalam upaya memperkuat sektor-sektor potensial seperti pertanian, perikanan, pariwisata, dan industri kreatif (Green Economy dan Blue Economy). Bappedalitbang Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) menggelar rapat pengembangan gula semut aren.

Rapat tersebut dipimpin langsung oleh Kepala Bappedalitbang, Juni Gultom, dan dihadiri oleh sejumlah pihak terkait, termasuk perwakilan dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UKM, serta tokoh penggerak pengembangan gula semut nipah, Marijan.

Bappedalitbang menyoroti potensi besar yang dimiliki gula semut aren di wilayah Kotawaringin Lama sebagai bagian dari pengembangan ekonomi hijau (Green Economy) dan biru (Blue Economy). "Kami ingin menjadikan gula semut aren sebagai produk unggulan yang tidak hanya mendukung perekonomian desa, tetapi juga berkelanjutan secara lingkungan," ujar Juni Gultom, Senin, 2 Desember 2024.

Bapak Marijan sebagai penggerak pembuatan Gula Semut Nipah Sabuai, ia berhasil menjadikan gula semut sebagai produk inovasi dan unggulan desanya sehingga meraih Juara I Lomba Desa di Tingkat Nasional, mengalahkan 14.695 desa di Regional III, yaitu Kalimantan dan Sulawesi.

Bapak Marijan bersama Kepala Desa Sabuai berbagi pengalamannya selama sembilan bulan belajar otodidak membuat Gula Semut Nipah Sabuai, hingga menemukan formula yang pas, dan berhasil menarik perhatian NGO Kaleka dan Universitas Gajah Mada untuk meneliti, memberikan pelatihan SDM, bantuan alat produksi, hingga pemasaran keluar daerah bahkan ke manca negara.

Tidak mudah bagi Kotawaringin Lama sebagai penghasil Gula Aren Kutaringin, untuk mereplikasinya dikarenakan bahan nira dari pohon aren, berbeda kondisinya dengan nira dari pohon nipah.

Pohon aren yang ada di Kotawaringin Lama juga sudah tidak sebanyak dulu, karena untuk tumbuh dan bisa menghasilkan nira memerlukan waktu hingga 20 tahun usia pohon.

"Lahannya banyak yang berubah menjadi perkebunan sawit, dan penjualan Banyu Lahang lebih memiliki nilai ekonomis bagi masyarakat daripada diolah menjadi gula aren," imbuh Juni Gultom.

Berbeda dengan pohon nipah yang bisa menghasilkan nira setelah mencapai usia 5 tahun, dan terdapat hampir disepanjang kawasan pesisir pantai tempat bertemunya air asin dan air tawar sehingga bisa mempertahankan jumlah bahan baku untuk produksi.

Desa Sabuai juga memproses untuk HPK (Hutan Produksi Dapat Dikonversi) seluas 512 Ha menjadi Hutan Desa maupun Hutan Kemasyarakatan sehingga dapat memenuhi kebutuhan masyarakat dan kebutuhan bahan baku industri, dengan tetap menjaga kelestarian ekosistemnya (Green Economy).

Direncanakan semua desa yang memiliki potensi pohon nipah akan dibantu untuk replikasi . Adapun tantangan yang dihadapi adalah kekurangan SDM trampil, infrastruktur jalan ke rumah produksi belum memadai, perubahan cuaca yang dapat merubah kualitas nira, dan lain-lain.

"Sehingga diperlukan penyusunan roadmap untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut, agar siap direplikasi pada desa lainnya dengan potensi yang sama," pungkasnya. (DANANG/j)