SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kotawaringin Timur (Kotim), Muhammad Irfansyah, memaparkan hasil investigasi terkait kasus pengeluaran siswa dari ujian penilaian akhir sumatif di salah satu satuan pendidikan di Kecamatan Baamang.

Berdasarkan penyelidikan, sebanyak 70 siswa tidak diizinkan mengikuti ujian pada Senin, 2 Desember 2024, karena masalah tidak disiplin yaitu ketidakrapian rambut. Namun, siswa-siswa tersebut tidak dipulangkan dan tetap berada di sekolah.

"Berdasarkan keterangan dari pihak sekolah pada Kamis, 28 November 2024, mereka mengumumkan kepada seluruh siswa di lapangan upacara bahwa pada Senin, 2 Desember 2024, akan dilaksanakan penilaian akhir sumatif. Para siswa diimbau untuk hadir dan mempersiapkan diri mengikuti ujian. Sekolah juga menyampaikan arahan kepada siswa laki-laki untuk memotong rambut agar terlihat lebih rapi, sebagai bagian dari penegakan disiplin dan tata tertib di sekolah," kata Irfansyah. 

Namun, pada hari pelaksanaan ujian, masih banyak siswa laki-laki yang tidak mematuhi arahan tersebut, sehingga pihak sekolah memutuskan untuk tidak mengizinkan siswa-siswa tersebut mengikuti ujian. Meski demikian, mereka tidak dipulangkan dan tetap berada di lingkungan sekolah.

Setelah menerima laporan terkait peristiwa ini, Disdik Kotim melakukan koordinasi dengan bidang pembinaan SMP dan pihak sekolah. Hasilnya, pihak sekolah diminta untuk menerapkan sanksi yang lebih humanis. Disdik mengarahkan agar siswa yang melanggar tetap diberikan kesempatan untuk mengikuti ujian, namun dengan pemberian surat teguran sebagai bentuk peringatan.

“Mendidik anak-anak memang tidak mudah, tetapi penting untuk tetap mengutamakan sisi humanis dalam proses pendidikan. Tugas pendidik adalah membantu siswa menjadi lebih disiplin tanpa membuat mereka merasa tertekan,” tambah Irfansyah.

Irfansyah mengakui bahwa menegakkan kedisiplinan merupakan tantangan tersendiri bagi pendidik, tetapi harus dilakukan dengan pendekatan yang tidak mengabaikan hak siswa.

“Kami pastikan besok anak-anak tersebut bisa mengikuti ujian ulang, dan yang tertinggal satu mata pelajaran akan diadakan ujian susulan,” katanya. 

Ia berharap peristiwa ini dapat menjadi pembelajaran bagi semua pihak, terutama di sekolah, agar kedisiplinan tetap dijalankan secara bijak dan menghormati hak setiap siswa untuk mendapatkan pendidikan yang layak.

"Memang ini menjadi salah satu tantangan pendidik. Menegakkan disiplin itu bagus memang tugas pendidik, tugas pendidik menjadikan yang tidak pandai menjadi pandai, yang belum baik menjadi baik, dan yang belum disiplin menjadi disiplin. Tetapi di sisi lain ada tantangan yang harus dihadapi. Saya meminta jangan jera untuk mendidik anak-anak. Namun harus kita ingatkan dalam mendidik harus tetap mengedepankan sisi humanis," pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan, Seorang orang tua siswa di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), mengungkapkan kekecewaannya di media sosial setelah anaknya dilarang mengikuti ujian penilaian sumatif akhir oleh seorang guru di sebuah sekolah Kecamatan Baamang hanya karena masalah rambut. Unggahan tersebut menjadi viral dan memicu perhatian Dinas Pendidikan Kotim.

Unggahan tersebut diposting melalui akun Facebook dengan akun Omeh Abizar mengunggah keluhan yang menyayangkan perlakuan guru terhadap anaknya. Akun tersebut juga menyebut Dinas Pendidikan Kotawaringin Timur, berharap mendapatkan perhatian dan keadilan.

Berikut tulisan postingan tersebut:

Dinas Pendidikan Kabupaten Kotawaringin Timur

Prapti Budiastuti 

Sungguh tidak adil,cuma gara2 rambut seperti ini,malah di keluarkan gak boleh ikut ulangan.. 

Kalo pun iya peraturan sekolah harus pendek kaya tentara..harus nya jgn di keluarkan 

Cukup beri tau org tua nya 

Aku tidak pernah Tunggak bayar komite atau sumbangan2 sekolah...anak ku pun Alhamdulillah tidak makan 

Dan aneh nya,ada anak yg rambut nya lebih brantakan tp bisa z ikut ulangan.. 

Kecewa sangat2 kecewa,sampai gemetar badang menahan kekecewaan 

#jangkauanluas 

#semuaorg 

#pengikut 

#dinaspendidikan 

Postingan tersebut memicu berbagai reaksi darwarganet. Bahkan saat berita ini ditulis telah mencapai 58 suka dan 41 komentar. Rata-rata komentar tersebut mengecam tindakan guru karena dari sejumlah foto yang turut diunggah nampak rambut siswa dinilai warganet rapi.

(DEWI PATMALASARI/j)