PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Banjir kembali melanda sejumlah desa di Kecamatan Kapuas Tengah, Kabupaten Kapuas, dan Kecamatan Kahayan Tengah, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah.

Banjir yang merendam pemukiman warga ini telah menghambat mobilitas barang dan memengaruhi jalur transportasi lintas kabupaten di kedua kecamatan tersebut.

Berdasarkan pantauan Wahana Lingkungan Hidup Kalimantan Tengah atau WALHI Kalteng dan Save Our Borneo atau SOB seperti dalam rilis yang diterima Borneonews pada Selasa, 3 Desember 2024 disebutkan bahwa bencana banjir di Kalimantan Tengah semakin meluas dan intens.

Data yang dihimpun SOB dari Data Informasi Bencana Indonesia atau DIBI dan Pusdatinkom Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB mencatat, dari Januari hingga Oktober 2024, sebanyak 9.089 rumah terendam, 60.416 jiwa terdampak, dan 252 orang terpaksa mengungsi di Kabupaten Kapuas dan Pulang Pisau.

Menurut Bayu Herinata, Direktur WALHI Kalteng, salah satu faktor utama yang memperburuk bencana banjir ini adalah menurunnya daya dukung lingkungan di Daerah Aliran Sungai atau DAS Kahayan-Kapuas.

"Aktivitas deforestasi besar-besaran oleh perusahaan-perusahaan di sektor kehutanan dan pertambangan telah merusak hutan dan sungai di kawasan ini," jelas Bayu.

Pembukaan hutan untuk perkebunan dan penambangan mengurangi kemampuan alam dalam menyerap air, memperburuk erosi, serta mengganggu keseimbangan ekosistem.

Berdasarkan data rekapitulasi bencana ekologis WALHI Kalteng, sejak 2020 hingga 2023, wilayah yang terdampak banjir semakin meluas. Kabupaten-kabupaten seperti Katingan, Kotawaringin Timur, Seruyan, Barito Utara, Barito Selatan, Pulang Pisau, Kapuas, dan Kota Palangka Raya telah menjadi daerah langganan banjir.

Bahkan daerah-daerah baru seperti Kabupaten Murung Raya, Barito Timur, Gunung Mas, dan Lamandau juga mulai mengalami kejadian banjir yang semakin sering.

"Desa-desa di bentang alam DAS Kahayan-Kapuas yang mengalami banjir berulang setiap tahun adalah bukti nyata bahwa kondisi lingkungan semakin kritis. Pemulihan segera diperlukan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut," tegas Bayu. (TESTI PRISCILLA/H)