BORNEONEWS, Palangka Raya - Direktur Save Our Borneo atau SOB, Muhamad Habibi menyoroti kerusakan hutan di kawasan DAS Kahayan-Kapuas.
"Di kawasan ini terdapat sedikitnya enam perusahaan Hutan Tanaman Industri atau HTI. Berdasarkan data yang dihimpun SOB dari Nusantara Atlas, pada tahun 2024, total deforestasi akibat aktivitas perusahaan-perusahaan tersebut mencapai 3.367 hektar hutan," ungkap Habibi dalam rilisnya kepada Borneonews pada Rabu, 4 Desember 2024.
Habibi menambahkan, kehilangan hutan yang signifikan ini memperburuk kondisi lingkungan dan memperparah bencana banjir.
"Kawasan ini terletak di hulu anak-anak sungai, sehingga deforestasi di konsesi perusahaan berdampak langsung pada hilir sungai. Akibatnya, banjir di daerah-daerah hilir semakin parah," tambah Habibi.
Menanggapi situasi ini, WALHI Kalteng dan SOB mendesak pemerintah untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam di wilayah ini, terutama yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar. Pemerintah perlu mengevaluasi kembali aktivitas yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan di sektor ekstraksi sumber daya alam.
"Tanpa langkah tegas, kerusakan lingkungan akan terus berlanjut dan memperburuk bencana ekologis yang merugikan masyarakat," kata Direktur WALHI Kalteng, Bayu Herinata dalam rilis yang sama.
Keduanya mengingatkan bahwa tanpa upaya mitigasi dan pemulihan yang konkret, dampak bencana akan semakin besar, baik bagi lingkungan maupun masyarakat. Banjir yang semakin parah akan terus mengancam jika tidak ada langkah nyata dari pemerintah.
"Krisis ekologis ini memerlukan penanganan yang serius dan sistematis, bukan hanya sebagai respons jangka pendek, tetapi sebagai bagian dari strategi mitigasi bencana yang lebih luas," bebernya. (TESTI PRISCILLA/H)









