PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Council of Palm Oil Producing Countries atau CPOPC mengadakan Ministerial Meeting ke-12 di Jakarta, yang menjadi ajang penting bagi negara-negara penghasil kelapa sawit untuk memperkuat kerja sama dan menyusun strategi menghadapi tantangan global.

Pertemuan ini membahas isu-isu seperti proteksionisme perdagangan dan keberlanjutan lingkungan, seperti dalam rilis yang diterima Borneonews dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit atau BPDPKS pada Kamis, 5 Desember 2024.

Acara ini dihadiri oleh para menteri dari anggota CPOPC, yaitu Indonesia, Malaysia, dan Honduras, serta perwakilan negara pengamat seperti Republik Demokratik Kongo atau DRC dan Nigeria.

Negara-negara yang sedang dalam proses keanggotaan penuh seperti Kolombia, Ghana, dan Papua Nugini juga turut serta.

Delegasi Indonesia, yang terdiri dari berbagai kementerian dan lembaga seperti Kementerian Pertanian, Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, serta BPDPKS, juga mengangkat isu lain, seperti upaya penurunan emisi gas rumah kaca atau GRK sebesar 41 persen melalui pemanfaatan biomassa sawit.

Dukungan ini sejalan dengan target pemanasan global yang diusung oleh berbagai forum internasional.

Selain itu, pelatihan bagi petani kecil menjadi salah satu agenda utama untuk memastikan mereka dapat memenuhi regulasi internasional, seperti European Union Deforestation Regulation atau EUDR, yang mulai berlaku pada akhir 2026.

Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas petani dalam memproduksi minyak sawit yang memenuhi prinsip keberlanjutan

Dipimpin oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI, Airlangga Hartarto, pertemuan ini menekankan pentingnya kolaborasi strategis untuk memperluas pasar sawit dan mendukung keberlanjutan industri.

"Indonesia berkomitmen di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat peran CPOPC dalam mendukung prioritas nasional," kata Airlangga.

Menteri Perladangan dan Komoditi Malaysia, YB Datuk Seri Johari Abdul Ghani, menyoroti isu proteksionisme perdagangan yang semakin meningkat dan menyerukan strategi bersama untuk memastikan akses pasar yang inklusif serta mendukung petani kecil.

Ia juga mengapresiasi program biodiesel B40 Indonesia yang berhasil mengurangi emisi karbon hingga 32 juta ton CO2.

Forum ini juga menyambut Nigeria dan DRC sebagai pengamat baru, serta mempersiapkan negara-negara seperti Kolombia, Ghana, dan Papua Nugini untuk menjadi anggota penuh.

Langkah ini menunjukkan komitmen CPOPC untuk memperluas basis keanggotaan dan memperkuat pengaruhnya di tingkat global.

CPOPC sepakat untuk memprioritaskan pengembangan energi hijau berbasis kelapa sawit, termasuk Sustainable Aviation Fuel atau SAF.

Indonesia dan Malaysia memiliki peran penting dalam memimpin inisiatif ini berkat kapasitas produksi sawit yang berkelanjutan.(TESTI PRISCILLA/R)