BORNEONEWS, Palangka Raya – Bencana banjir yang melanda Kota Palangka Raya pada akhir November hingga bulan Desember 2024 mengakibatkan kerusakan lahan pertanian yang cukup signifikan.
Berdasarkan data yang dihimpun, setidaknya 25,5 hektar lahan pertanian milik kelompok tani di Kelurahan Tanjung Pinang dan Kalampangan terdampak. Kerusakan ini berpotensi mengganggu produksi komoditas pertanian utama Palangka Raya.
Sebanyak sebelas kelompok tani tercatat mengalami kerugian akibat banjir tersebut. Kelompok tani Rukun Bersama di Kelurahan Tanjung Pinang mengalami kerusakan lahan seluas 1 hektar yang ditanami semangka.
"Sementara itu, di Kelurahan Kalampangan, sepuluh kelompok tani lainnya mengalami kerusakan lahan yang ditanami berbagai jenis sayuran," kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kota Palangka Raya Sugiyanto, Kamis, 5 Desember 2024.
Kelompok tani yang terdampak di Kelurahan Kalampangan meliputi KWT Arimbi, Harapan Maju, Harapan Tani 1, Harapan Tani 2, Karya Jaya 1, Karya Jaya 2, Sepakat Bersama, Usaha Tani, KWT Purnoma, dan KWT Prosemi Manunggal. Masing-masing kelompok mengalami kerusakan lahan seluas 2,5 hektar. Total luas lahan yang terdampak di Kalampangan mencapai 24,5 hektar.
Kerusakan lahan pertanian ini menimbulkan kekhawatiran akan berkurangnya pasokan komoditas pertanian di pasaran. Sayuran dan semangka merupakan komoditas penting yang dihasilkan oleh kelompok tani tersebut, dan kerusakan lahan ini berpotensi meningkatkan harga di pasar lokal.
"Pemerintah Kota Palangka Raya saat ini tengah melakukan pendataan dan asesmen lebih lanjut untuk menentukan langkah-langkah penanganan yang tepat dan efektif bagi para petani yang terdampak banjir," pungkasnya. (PATHUR/j)









