BORNEONEWS, Sampit - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotawaringin Timur (Kotim) tengah berupaya mengatasi permasalahan sampah. Pasalnya, penumpukan sampah di depo dan tempat pembuangan sampah sementara (TPS) tak kunjung teratasi, sementara sungai pun dijadikan bak sampah alami.
"Yang terjadi saat ini, kami belum mampu melakukan upaya yang signifikan untuk mengatasi sampah. Sampah ada di mana-mana, penumpukan sampah di depo atau TPS belum maksimal tertangani, jauh dari kesadaran kita untuk memanfaatkan atau mengelola sampah," kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kotim, Marjuki melalui Kepala Bidang Tata Lingkungannya, Endah Prihatin, Senin,8 Desember 2024.
Endah menjelaskan bahwa sistem pengelolaan sampah saat ini masih mengandalkan sistem kumpul, angkut, dan buang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Setiap hari, sekitar 8 ton sampah masuk ke TPA seluas 12,5 hektar, yang membuat TPA hampir mencapai kapasitas maksimal.
"TPA kita hampir overcapacity. Sementara itu, sebelum kita siap mengatasinya, pemerintah pusat telah menargetkan tidak ada lagi pembangunan TPA sebagai upaya mengurangi emisi karbon dari sumber sampah." ujarnya.
Ia menekankan bahwa dibutuhkan perubahan paradigma dalam pengelolaan sampah. Bukan lagi sekadar membuang sampah, tetapi juga memilah dan mengolahnya agar memiliki nilai guna. Hal ini sejalan dengan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, yang mengamanatkan pengurangan dan penanganan sampah, khususnya untuk limbah rumah tangga.
"Idealnya, sampah dan limbah tidak langsung dibuang begitu saja, tetapi juga perlu dipilah dan diolah lebih lanjut agar nilai guna dari sampah itu terus berlanjut, sehingga beban lingkungan yang disebabkan oleh sampah dapat ditekan lebih kecil lagi, " tekannya.
Lanjutnya, untuk mencapai tujuan tersebut dibutuhkan kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan sektor swasta. DLH Kota Sampit telah mengundang beberapa badan usaha untuk berpartisipasi dalam menumbuhkan peran serta masyarakat dalam mengoptimalkan pengurangan, pemilahan, dan pengolahan sampah.
"Perlu mengoptimalkan pengelolaan sampah yang melibatkan berbagai pihak. Hal ini membutuhkan kerja sama dari kalangan masyarakat, pemerintah, dan juga sektor privat," jelasnya.
Dirinya menilai kehadiran kelompok swadaya masyarakat, yang disebut sebagai Kader Lingkungan Hidup, diharapkan dapat menjadi penggerak dalam mengelola sumber daya sampah. Mereka diharapkan dapat menjadi pioner dalam mengelola sampah secara optimal, dengan menjadikan kampung mereka sebagai pilot project pengelola sampah terbaik di Kota Sampit.
"Dengan hadirnya kelompok swadaya masyarakat atau kami menyebutnya dengan Kader Lingkungan Hidup saat ini, mampu menjadi pioner untuk menjadi penggiat pengelola sumber daya sampah kita yang luar biasa manfaatnya apabila dimanfaatkan semaksimal mungkin dan kampungnya dapat menjadi pilot project pengelola sampah terbaik di Kota Sampit," pungkasnya. (DEVIANA/H)









