BORNEONEWS, Sukamara – Tradisi Betawakan atau perang air yang biasanya banyak diikuti oleh masyarakat Sukamara untuk memeriahkan hari-hari besar islam, termasuk Hari Idul Adha kali ini berbeda. Biasanya ratusan kelotok dan speed boat memadati Sungai Jelai, kali ini hanya diikuti puluhan kelotok saja.


Uji, seorang penonton mengatakan, acara Betawakan kali ini memang tidak semeriah acara Betawakan saat menyambut Hari Idul Fitri. Betawakan sebelumnya juga diwarnai dengan lomba perahi hias yang diselenggarakan oleh pihak kecamatan.


“Sepi sekali, biasanya puluhan bahkan ratusan kelotok banyak memadati sungai, ini mungkin hanya sekitar 20 kelotok saja,” tutur Uji, Senin (12/09/2016).


Menurut dia  dengan sepinya peserta dari kegiatan ini menurunkan semangat warga lain yang ingin menyaksikan acara Betawakan tersebut. Banyak warga lebih memilih pulang ke rumah dibanding menyaksikan acara perang air.


“Untuk perang air di perayaan Idul Adha ini memang kurang diminati jika dibanding perayaan Idul Fitri. Dan itu memang sudah sering terjadi. Saya tidak mengetahui apa penyebabnya,” ungkap dia.


Agar tradisi Sukamara ini tidak hilang seiring waktu, ia meminta kepada Pemerintah Kabupaten Sukamara untuk dapat memberikan perhatian lebih pada tradisi Betawakan yang sudah berlangsung turun temurun.


“Agar lebih ramai setidaknya Pemda Sukamara bisa adakan lomba-lomba lagi seperti sebelumnya, itu sebagai perangsang agar banyak masyarakat yang ingin berpartisipasi  dalam tradisi Betawakan ini,” pinta Uji.


Hal senada diungkapkan penonton lain yang  merasa kecewa karena jumlah peserta  sangat sedikit sehingga ia memilih pulang ke rumah.


“Tiap tahun kita duduk di pelabuhan speed boat untuk nonton dan pesertanya  banyak. Kali ini sepi sekali, jadi kita pulang  aja,” kata Ernita.


Ernita berharap kegaiatan yang biasanya dilakukan selama tiga hari ini dapat kembali meriah seperti acara Betawakan sebelumnya.


“Semoga  saja besok pesertanya lebih ramai,” harap warga Kelurahan Mendawai ini. (MG-13/m)