BORNEONEWS, Palangka Raya - Pada November 2024, terjadi penurunan Nilai Tukar Petani Tanaman Pangan atau NTPP sebesar 2,63 persen di Kalimantan Tengah.
Kepala BPS Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti, menjelaskan bahwa penurunan ini disebabkan oleh turunnya indeks harga yang diterima petani (It) sebesar 2,11 persen, sementara indeks harga yang dibayar petani (Ib) mengalami kenaikan sebesar 0,53 persen.
"Penurunan It disebabkan oleh penurunan indeks harga padi sebesar 2,30 persen, sedangkan kelompok palawija mengalami kenaikan sebesar 0,69 persen," ujar Agnes pada Rabu, 11 Desember 2024.
Penurunan indeks harga padi disebabkan oleh intensitas hujan yang tinggi sehingga menyebabkan kualitas gabah menurun. Sementara itu, kenaikan indeks harga palawija disebabkan oleh turunnya indeks harga pada komoditas ketela pohon.
"Kenaikan Ib pada November 2024 disebabkan oleh kenaikan dua indeks penyusunnya, yaitu indeks kelompok KRT sebesar 0,55 persen dan kelompok BPPBM sebesar 0,44 persen," tambah Agnes.
Selain itu, Nilai Tukar Petani Tanaman Hortikultura atau NTPH juga mengalami penurunan pada November 2024 sebesar 0,70 persen. Penurunan ini disebabkan oleh turunnya It hortikultura sebesar 0,32 persen, sementara Ib hortikultura mengalami kenaikan sebesar 0,39 persen.
"Penurunan It disebabkan oleh turunnya indeks harga pada kelompok sayur-sayuran seperti cabai rawit, bayam, dan cabai merah sebesar 0,23 persen, serta kelompok tanaman buah-buahan seperti semangka dan mangga sebesar 0,38 persen," jelas Agnes.
Namun, kelompok tanaman obat seperti kunyit mengalami kenaikan indeks harga sebesar 0,32 persen.
"Kenaikan Ib pada November 2024 sebesar 0,39 persen dari 124,10 menjadi 124,58 disebabkan oleh kenaikan pada dua indeks penyusunnya, yaitu indeks kelompok KRT sebesar 0,40 persen dan kelompok BPPBM sebesar 0,24 persen," kata Agnes.
Agnes Widiastuti menekankan pentingnya pemantauan dan pengendalian harga komoditas pertanian untuk menjaga stabilitas ekonomi petani.
"Kami terus berupaya untuk memantau dan mengendalikan harga komoditas pertanian agar petani dapat tetap sejahtera," ujarnya.
Langkah-langkah strategis akan terus dilakukan untuk mengatasi tantangan yang dihadapi oleh sektor pertanian di Kalimantan Tengah.
Dengan adanya penurunan NTPP dan NTPH, diharapkan pemerintah dan pihak terkait dapat mengambil langkah-langkah yang tepat untuk mendukung petani dalam menghadapi tantangan ini.
"Kami berharap upaya ini dapat membantu meringankan beban petani dan meningkatkan kesejahteraan mereka," tutur Agnes Widiastuti. (TESTI PRISCILLA/H)



