PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Tanaman perkebunan rakyat merupakan subsektor andalan di Kalimantan Tengah. Nilai Tukar Petani Tanaman Perkebunan Rakyat atau NTPR pada November 2024 mengalami kenaikan sebesar 4,67 persen dibandingkan Oktober 2024, dari 151,95 menjadi 159,05.

Kepala BPS Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti, menjelaskan bahwa kenaikan ini disebabkan oleh indeks yang diterima petani atau It mengalami kenaikan sebesar 5,06 persen, jauh lebih besar dibandingkan kenaikan indeks yang dibayar petani atau Ib sebesar 0,37 persen.

Kenaikan It pada November 2024 disebabkan oleh kenaikan indeks harga hasil produksi pada kelompok tanaman perkebunan rakyat, yaitu karet dan kelapa sawit.

"Kenaikan harga karet disebabkan oleh turunnya produksi karet secara global akibat cuaca yang tidak menentu dan intensitas banjir yang tinggi di negara penghasil karet terbesar," ujar Agnes.

Sementara itu, kenaikan harga kelapa sawit disebabkan oleh ketatnya pasokan CPO di Indonesia sebagai upaya memenuhi rencana pemerintah untuk meningkatkan campuran biodiesel.

Adapun Ib subsektor tanaman perkebunan rakyat mengalami kenaikan sebesar 0,37 persen yang disebabkan oleh kenaikan pada dua indeks penyusunnya, yaitu indeks kelompok KRT sebesar 0,42 persen dan kelompok BPPBM sebesar 0,09 persen.

"Kenaikan ini menunjukkan adanya peningkatan biaya yang harus dikeluarkan oleh petani untuk kebutuhan rumah tangga dan produksi," tambah Agnes.

Agnes Widiastuti menekankan pentingnya pemantauan dan pengendalian harga komoditas perkebunan untuk menjaga stabilitas ekonomi petani.

"Kami terus berupaya untuk memantau dan mengendalikan harga komoditas perkebunan agar petani dapat tetap sejahtera," ujarnya.

Langkah-langkah strategis akan terus dilakukan untuk mengatasi tantangan yang dihadapi oleh sektor perkebunan di Kalimantan Tengah.

Dengan adanya kenaikan NTPR, diharapkan pemerintah dan pihak terkait dapat mengambil langkah-langkah yang tepat untuk mendukung petani dalam menghadapi tantangan ini.

"Kami berharap upaya ini dapat membantu meringankan beban petani dan meningkatkan kesejahteraan mereka," kata Agnes.

Secara keseluruhan, kenaikan NTPR pada November 2024 menunjukkan adanya peningkatan daya beli petani perkebunan rakyat di Kalimantan Tengah.

"Kami optimis bahwa dengan kerja sama yang baik antara pemerintah, petani, dan pihak terkait, sektor perkebunan rakyat di Kalimantan Tengah dapat terus berkembang dan memberikan kontribusi positif bagi perekonomian daerah," tuturnya. (TESTI PRISCILLA/H)