BORNEONEWS, Kotim - Rencana pemindahan pelabuhan bongkar muat barang dan pelabuhan penumpang oleh Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur mendapat dukungan dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah. Bahkan diakui Pelabuhan Pelindo III Sampit sudah memadai.

“Ini Pelabuhan sudah memadai, bahkan tadi saya bincang-bincang dengan pak bupati dan bupati sudah menyurati Pelindo supaya nanti Pelabuhan Penumpang bisa dipindahkan ke Pelabuhan Bagendang,” ucap Gubernur Kalimantan Tengah, Sugianto Sabran saat meninjau Pelabuhan Bagendang bersama Bupati dan Wakil Bupati Kotim Supian Hadi-Taufiq Mukri, Selasa (13/9/2016).

Saat kunjungannya itu, Sugianto bersama rombongan pejabat provinsi dan Kabupaten Kotim itu meninjau aktivitas bongkar muat barang di Pelabuhan Pelindo III Sampit. Dia ingin memastikan pelayanan pemerintah daerah terhadap masyarakat dan pengusaha di Kotawaringin Timur, khususnya di Pelabuhan Pelindo III Bagendang.

“Hari ini kami kunjungan kerja ke Pelabuhan Bagendang Sampit bersama pak bupati. Ingin melihat bagaimana pelayanan dari pemerintah daerah termasuk provinsi terhadap masyarakat dan pengusaha di Kalteng dan Kotim,” katanya.

Dari tinjauannya itu, Sugianto mengaku Pelabuhan Pelindo III sudah memadai. Hanya untuk melancarkan arus bongkar muat barang perlu diperhatikan masalah infrastruktur jalan menuju pelabuhan itu.

“Yang perlu diperbaiki masalah jalan yang belum selesai, apalagi rencana mereka membangun pelabuhan disini,” katanya.

Sebelumnya, Bupati Kotim Supian Hadi sudah menyurati PT Pelindo III untuk menindaklanjuti keinginan pemerintah daerah yang hendak memindahkan pelabuhan penumpang tersebut. Alasan pemindahan itu karena pelabuhan sekarang yang ada di Sampit diakui sudah tidak layak seiring dengan pertumbuhan penduduk yang semakin padat di wilayah perkotaan.

Dengan semakin padatnya jumlah penduduk dan untuk pengembangan Kota Sampit, pelabuhan penumpang sudah seharusnya di pindahkan ke lokasi yang baru yakni Bagendang. Langkah itu juga untuk menjaga keindahan kota, karena pelabuhan penumpang Sampit juga digunakan untuk bongkar muat barang kapal roro dan kerap dilewati kendaraan bertonase melebihi kapasitas jalan.

“Ketika kapal roro masuk, mobil-mobil besar dengan muatan berat melewati jalan dalam kota terutama depan pelabuhan, sehingga jalan cepat hancur dan lalulintas sembrawut. Makanya kami programkan kota harus bebas dari pelabuhan ,” ujar Supian.

Pemerintah Kotim mewacanakan akan mempercepat proses pemindahan pelabuhan penumpang ataupun pelabuhan bongkar muat tersebut. Bupati merencanakan hal itu bisa direalisasikan pada 2017, sehingga Sampit steril dari angkutan barang dari pelabuhan. (RAFIUDIN/N).