BORNEONEWS, Sampit - Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Umar Kaderi mengungkapkan kasus keracunan yang terjadi sebagian besar bersumber dari masakan rumah tangga atau pangan olahan.
"Meskipun pemenuhan pangan yang aman dan bermutu merupakan hak asasi setiap manusia, data terbaru dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menunjukkan peningkatan signifikan kasus keracunan pangan di Indonesia," katanya, Kamis, 12 Desember 2024.
Itu dikatakan saat dirinya membuka Bimbingan Teknis (Bimtek) Penyuluhan Keamanan Pangan (PKP) yang diikuti 150 pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Kotim.
Diungkapkan, sejak awal tahun 2023 hingga 16 Oktober 2023, tercatat 4.792 kasus keracunan pangan, meningkat lebih dari 1.000 kasus dibandingkan tahun 2022. Yang mengejutkan, data tersebut menunjukkan bahwa masakan rumah tangga menjadi sumber utama kasus keracunan pangan, mencapai 53% dari total kasus.
Data Kemenkes juga menunjukkan bahwa kasus keracunan pangan berasal dari berbagai sumber, termasuk gerai pangan jajanan keliling (17%), jasa boga (15%), pangan kemasan (4%), rumah makan (4%), dan gerai pangan jajanan (7%).
Meski olahan pangan rumah tangga menjadi sumber keracunan paling besar, Industri Rumah Tangga (IRT) juga harus menjadi perhatian bersama.
"Tahun 2023 lalu di Kotim sendiri mengalami kasus keracunan makanan massal yang menghebohkan. Ada 84 orang menjadi korban keracunan setelah mengkonsumsi jajanan takjil kue Ipau," ucapnya.
Dari 84 korban, 33 orang laki-laki dan 51 orang perempuan, dengan rentang usia dari kurang dari 5 tahun hingga lansia. Tragisnya, satu orang meninggal dunia akibat keracunan tersebut. Hasil pemeriksaan sampel sisa kue di Labkesda menunjukkan adanya bakteri Escherichia coli (E. coli) dan Salmonella yang menjadi penyebab keracunan.
"Keamanan pangan menjadi tanggung jawab kita semua pemerintah, masyarakat dan pelaku usaha, semua bertanggung jawab secara terpadu, bersinergis dalam menerapkan keamanan pangan disetiap mata rantai pangan. Kolaborasi yang erat antara semua pihak sangat dibutuhkan untuk menciptakan sistem keamanan pangan yang lebih baik.
"Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk meningkatkan kesadaran akan keamanan pangan dan menerapkan prinsip-prinsip sanitasi yang baik dalam pengolahan makanan. Masyarakat harus lebih waspada dan berhati-hati dalam memilih dan mengolah makanan," tegas Umar. (DEVIANA/j)









