BORNEONEWS, Palangka Raya - Dalam upaya melestarikan warisan budaya lokal, tim dosen Universitas Palangka Raya atau UPR melaksanakan penelitian berjudul "Revitalisasi Warisan Budaya Dayak Ngaju melalui Pengembangan Desain Senjata Tradisional Mandau Bermotif Djata".
Penelitian ini diketuai oleh Endah Yusma Pratiwi dari Prodi Pendidikan Luar Sekolah, dan beranggotakan Nawung Asmoro Girindraswari, Marissa Aulia Mayangsari, dan Andi Arie Astuti dari Prodi Sendratasik. Kegiatan ini mendapat dukungan penuh melalui hibah penelitian dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat atau LPPM UPR.
"Mandau, sebagai senjata tradisional masyarakat Dayak memiliki nilai simbolis dan historis yang sangat mendalam. Penelitian ini bertujuan mengangkat kembali nilai seni dan filosofi mandau melalui pengembangan desain bermotif Djata, salah satu motif yang kaya akan makna dalam budaya Dayak Ngaju. Motif Djata mencerminkan harmoni, kekuatan, dan koneksi spiritual masyarakat Dayak dengan alam," kata Endah kepada Borneonews pada Sabtu, 14 Desember 2024.
Endah Yusma Pratiwi menjelaskan bahwa penelitian ini berfokus pada inovasi desain mandau dengan tetap menjaga nilai autentik budaya Dayak Ngaju.
"Kami berharap, melalui pengembangan motif Djata, mandau tidak hanya menjadi simbol budaya, tetapi juga mampu bersaing dalam seni kontemporer," katanya.
Selain itu, penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan apresiasi generasi muda terhadap budaya lokal. Salah satu pendekatan yang dilakukan adalah menjadikan desain mandau lebih adaptif terhadap selera zaman, tanpa menghilangkan esensi tradisionalnya.
Dukungan hibah dari LPPM UPR memungkinkan tim peneliti untuk melakukan eksplorasi mendalam, termasuk studi literatur, observasi lapangan, dan wawancara.
"Penelitian ini diharapkan mampu menghasilkan produk seni yang tidak hanya menjadi simbol pelestarian budaya, tetapi juga mendukung promosi budaya Dayak di kancah nasional maupun internasional," katanya lagi.
Dengan kolaborasi antara akademisi dan seniman lokal Palangka Raya yakni Huma Mandau, penelitian ini menjadi langkah konkret dalam upaya revitalisasi budaya Dayak Ngaju, sekaligus memperkuat identitas lokal di tengah arus modernisasi. (TESTI PRISCILLA/H)









