BORNEONEWS, Sampit - Upaya untuk mengatasi penyakit kaki gajah (filariasis) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terus berlanjut. Meskipun pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) telah dilakukan sejak tahun 2007, prevalensi mikrofilaria di beberapa wilayah endemis masih tergolong tinggi.
Hasil survei terbaru menunjukkan bahwa prevalensi mikrofilaria di beberapa desa di Kotim masih melebihi 1 persen, yang merupakan persyaratan untuk pelaksanaan Transmission Assessment Survey (TAS) menuju eliminasi.
"Meskipun kita sudah melaksanakan POPM selama beberapa tahun, kami belum mencapai target eliminasi filariasis," ujar Kepala Dinas Kesehatan Kotim, Umar Kaderi, Senin, 16 Desember 2024.
Survei Pre-TAS yang dilaksanakan pada awal Desember 2024 menemukan bahwa di Desa Luwuk Bunter dan Desa Sudan, masing-masing mikrofilaria rate-nya masih 5,2 persen dan 3,2 persen, lebih tinggi dari ambang batas yang ditetapkan untuk dapat maju ke tahap TAS, yaitu kurang dari 1 persen.
"Kami menyadari bahwa untuk mencapai eliminasi filariasis, kerjasama antara masyarakat, pemerintah, dan berbagai instansi sangat penting," ungkapnya.
Lanjutnya, untuk mengatasi hal ini, Kotim akan melanjutkan pemberian obat pencegahan massal selama dua tahun berturut-turut lagi di seluruh wilayah. Hal ini sesuai rekomendasi Kementerian Kesehatan.
Pemberian obat pencegahan massal yang sudah dilaksanakan sejak 2007 hingga 2021, meski berhasil mencapai cakupan lebih dari 65 persen, belum cukup untuk menurunkan prevalensi mikrofilaria di beberapa desa endemis. Hal ini menuntut Kotim untuk kembali melakukan POPM dengan obat baru yang lebih efektif, yakni kombinasi Ivermectin, Deethyl Carbamazine Citrate (DEC), dan Albendazole (IDA).
Survei Pre-TAS yang diadakan pada 3-5 Desember 2024 ini melibatkan tim dari Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah, Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat Banjarbaru, serta petugas dari Puskesmas dan Laboratorium Kesehatan Masyarakat lainnya.
Umar Kaderi menghimbau agar masyarakat mendukung program ini dengan memberikan sampel darah saat dilakukan pengambilan di malam hari, yang merupakan waktu keluarnya mikrofilaria.
"Pencegahan adalah kunci. Kami mohon partisipasi aktif warga untuk melakukan pemeriksaan darah dan meminum obat pencegahan sesuai jadwal," pungkasnya. (DEVIANA/j)









