BORNEONEWS, Palangka Raya - Rawing Rambang, Pengamat Ekonomi di bidang Perkebunan dan Dosen Universitas Kristen Palangka Raya serta Sekretaris Eksekutif GAPKI Cabang Kalimantan Tengah, menanggapi pernyataan Anggota DPD RI Dapil Kalimantan Tengah, Teras Narang, mengenai kontribusi perkebunan kelapa sawit terhadap perekonomian Kalimantan Tengah. Menurut Rawing, perkebunan kelapa sawit merupakan komoditi yang sangat berkontribusi terhadap perekonomian di Kalimantan Tengah.
Berdasarkan data Dinas Perkebunan tahun 2023 dan BPS tahun 2022, jumlah tenaga kerja di sektor perkebunan kelapa sawit mencapai sekitar 355.000 orang, hampir 13 persen dari total penduduk Kalimantan Tengah.
"Kontribusi terhadap PDRB Kalimantan Tengah tahun 2023 mencapai 14,66 persen, dengan produksi CPO sebesar 7,2 juta ton atau 16 persen dari produksi nasional," ujar Rawing kepada Borneonews pada Selasa, 17 Desember 2024.
Rawing menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah, baik provinsi maupun kabupaten, dengan pemerintah pusat, pengusaha, dan masyarakat dalam memanfaatkan Dana Bagi Hasil untuk kesejahteraan masyarakat.
"Pemerintah daerah harus mampu bersinergi dengan pemerintah pusat, pengusaha, dan masyarakat untuk memanfaatkan Dana Bagi Hasil ini secara maksimal," tambahnya.
Lebih lanjut, Rawing menjelaskan bahwa pemerintah daerah harus melaksanakan kegiatan yang berdasarkan kebutuhan masyarakat, bukan berdasarkan keinginan kelompok atau golongan tertentu.
"Kegiatan yang dilakukan harus didukung oleh data yang akurat dan relevan," jelasnya.
Hal ini penting untuk memastikan bahwa program-program yang dijalankan benar-benar bermanfaat bagi masyarakat.
Terkait dengan pengembangan industri hilir, Rawing menyarankan agar Kalimantan Tengah membangun industri mengingat luas lahan sawit yang sudah ditanam mencapai 3,2 juta hektar.
"Dengan terbangunnya industri hilir, kontribusi perkebunan kelapa sawit terhadap perekonomian akan lebih optimal," ujarnya.
Industri hilir dapat meningkatkan nilai tambah produk kelapa sawit dan menciptakan lapangan kerja baru.
Rawing juga menekankan pentingnya pemerintah daerah dalam mendorong pengusaha untuk membangun industri hilir dengan memberikan iklim investasi yang kondusif.
"Pemerintah daerah harus memberikan kemudahan dalam perizinan, serta menjamin kenyamanan dan keamanan berusaha bagi para pengusaha," tambahnya.
Hal ini akan menarik lebih banyak investasi dan mempercepat pembangunan industri hilir di Kalimantan Tengah.
Dengan adanya sinergi antara pemerintah, pengusaha, dan masyarakat, serta pengembangan industri hilir, diharapkan kontribusi perkebunan kelapa sawit terhadap perekonomian Kalimantan Tengah akan semakin meningkat.
"Kami optimis bahwa dengan langkah-langkah ini, kesejahteraan masyarakat Kalimantan Tengah akan terus meningkat," tutup Rawing Rambang. (TESTI PRISCILLA/j)









