BORNEONEWS, Sampit - Badan Pusat Statistik (BPS) Kotawaringin Timur (Kotim) melaporkan bahwa inflasi di wilayah tersebut relatif stabil sepanjang tahun 2024. Meskipun demikian, BPS memperingatkan potensi deflasi pada awal tahun yang dapat menjadi indikator penurunan daya beli masyarakat.
Kepala BPS Kotim, Eddy Surahman, mengungkapkan bahwa inflasi di Kotim jauh lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.
"Secara keseluruhan Alhamdulillah di tahun 2024 ini gejolak inflasi kita relatif stabil dan ini jauh lebih rendah daripada di 2023. Walaupun sebenarnya perlu kami sampaikan di awal-awal tahun itu kami khawatir, karena inflasinya rendah dan beberapa bulan itu justru mengalami deflasi," ungkapnya, Selasa, 17 Desember 2024.
Deflasi, yang terjadi pada awal tahun 2024, menimbulkan kekhawatiran terkait penurunan daya beli masyarakat. Meskipun angka deflasi relatif rendah dan variatif, kecenderungan inflasi masih ada.
"Perlu kami sampaikan bahwasanya inflasi rendah itu pun tidak harus serta-merta kita bergembira, karena salah satunya tadi menjadi indikasi dari lesunya perekonomian kita. Namun demikian Saya cukup optimis dengan perhitungan inflasi kami di tahun 2024 ini harga relatif stabil," bebernya.
Eddy menjelaskan bahwa inflasi diperkirakan akan terjadi pada bulan Desember 2024, yang akan diumumkan pada bulan Januari 2025. Kenaikan harga ini diprediksi terjadi sehubungan dengan peringatan hari besar keagamaan yang biasanya meningkatkan daya beli masyarakat. Faktor psikologis juga berperan dalam mempengaruhi perkembangan harga di pasar.
"Dalam beberapa tahun terakhir beberapa komoditas sering menjadi penyumbang inflasi dari 5 tahun terakhir yang kami ambil datanya yang terjadi di Desember, biasanya kenaikan terjadi beberapa komoditas itu seperti beras dan minyak goreng," ungkapnya.
Komoditas seperti beras, bawang merah, dan daging ayam terus menjadi tiga besar penyebab inflasi. Disampaikan, perkembangan inflasi kita yang berjalan selama tahun 2023 dan 2024 ini, menurutnya tidak banyak yang perlu dikhawatirkan, karena melihat perkembangan harga relatif stabil. Kenaikan itu juga tidak terlalu banyak dan menggambarkan bahwa ekonomi sedang berjalan.
Eddy menjelaskan bahwa inflasi pada tahun 2023 didominasi oleh kenaikan harga beras selama delapan bulan. Sementara itu, inflasi pada tahun 2024 diperkirakan akan didominasi oleh kenaikan harga daging ayam ras.
"Bahkan harga ayam ini terus naik sejak Idul Fitri hingga Idul Adha. Dan sempat turun, namun sekarang kembali naik," tutupnya. (DEVIANA/j)









