BORNEONEWS, Palangka Raya – Aksi demonstrasi damai yang dilakukan Aliansi Barisan Aksi Reformasi Kepolisian Dekonstruksi (Barikade) di depan Polda Kalteng, Kamis, 19 Desember 2024, berakhir ricuh.
Para mahasiswa yang menuntut Kapolda Kalteng dan Kapolresta Palangka Raya untuk menemui mereka, kecewa karena tuntutan tersebut tak dipenuhi. Kekecewaan berujung pada aksi dorong-mendorong dan adu mulut dengan aparat kepolisian.
Puncaknya, mahasiswa melakukan teatrikal adegan penembakan dan membakar ban sebagai bentuk protes atas kinerja kepolisian yang dinilai buruk. Aksi ini dipicu oleh serangkaian kasus pembunuhan yang diduga melibatkan oknum aparat kepolisian dalam kurun waktu satu tahun terakhir.
Arif Bayu Basyariman, Ketua Bidang Hikmah Politik dan Kebijakan Publik DPD IMM Kalteng, menyatakan tuntutan utama aksi ini adalah pencopotan Kapolda Kalteng dan Kapolresta Palangka Raya.
Selain itu, Barikade juga menuntut:
1. Pengutukan keras tindakan pembunuhan oleh oknum aparat kepolisian.
2. Investigasi independen, transparan, dan akuntabel terhadap kasus pembunuhan di Kalteng, serta hukuman berat bagi para pelaku.
3. Reformasi total di tubuh kepolisian, meliputi rekruitmen, pelatihan berbasis HAM, evaluasi berkala, dan pemberantasan budaya kekerasan.
4. Pencopotan Kapolda Kalteng dan Kapolresta Palangka Raya atas tanggung jawab mereka terhadap aksi kebrutalan kepolisian.
Menanggapi demonstrasi tersebut, Kabid Humas Polda Kalteng, Kombes Pol Erlan Munaji, menjelaskan bahwa Polda Kalteng telah melakukan berbagai upaya, termasuk transparansi, audit kinerja, dan kerja sama dengan Mabes Polri dalam penanganan kasus.
"Penindakan sudah terkait hal tersebut dan kami akan tindaklanjuti lebih dalam," pungkasnya.
Saat ini Polda Kalteng tengah menangani kasus anggota Polresta Palangka Raya berinisial Brigadir AKS yang diduga menembak seorang warga berinisial BA hingga meninggal disertai aksi pencurian. (PATHUR/j)









