BORNEONEWS, Sampit – Proyek Rekonstruksi Jalan Pemancar Metro, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), yang seharusnya selesai pada 18 Desember 2024, mengalami keterlambatan.
Berdasarkan informasi di papan proyek, nilai kontrak pekerjaan ini mencapai Rp 6,836 miliar dengan pelaksana CV Karya Nusa Adyatama dan konsultan pengawas CV Berlian Kalimantan Engineering. Proyek ini dimulai pada 21 Agustus 2024 sesuai kontrak nomor 600.2.10.1/116/KTK/DSDABMBKPRKP-BM/VIII/2024.
Namun, hingga akhir Desember 2024, pengaspalan jalan belum juga dimulai, meskipun pekerjaan penimbunan menggunakan agregat telah selesai.
Kepala Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, Bina Konstruksi, Perumahan Rakyat, dan Kawasan Permukiman (SDABMBKPRKP) Kotim, Mentana Dhinar Tistama, memastikan proyek ini akan dituntaskan hingga tahap pengaspalan hingga ujung atau sepanjang 1,5 kilometer.
"Pekerjaan sesuai kontrak akan selesai hingga pengaspalan. Saat ini memang ada keterlambatan, tetapi akan dilanjutkan sesuai ketentuan, termasuk penerapan sanksi kepada pelaksana," kata Mentana, Kamis, 26 Desember 2024.
--page
Ia menambahkan denda keterlambatan akan dikenakan kepada kontraktor sesuai regulasi. Selain itu, Direksi Teknis telah melaksanakan tiga kali Show Cause Meeting untuk mengevaluasi progres proyek dengan target penyelesaian sebelum akhir tahun.
Adapun salah satu warga perumahan sekitar Jalan Pemancar Metro, Ratna, sempat mempertanyakan keterlambatan rekonstruksi jalan tersebut.
"Sesuai papan proyek, seharusnya selesai pertengahan Desember, tapi belum ada pengaspalan sama sekali hingga saat ini," ujar Ratna.
Lanjutnya, kondisi memprihatinkan Jalan Pemancar Metro tersebut sudah terjadi selama belasan tahun. Ratna yang tinggal di kawasan tersebut selama 12 tahun lebih mengaku baru kali ini jalan tersebut mendapat perhatian pemerintah daerah.
"Selama 12 tahun tinggal di sini, kami harus melewati jalan rusak, bergelombang, dan berdebu," keluhnya.
Terlebih dirinya berprofesi sebagai penjual kue ulang tahun yang selalu melewati jalan tersebut setiap mengantar pesanan. Sehingga kondisi jalan yang buruk sering kali menimbulkan risiko saat mengantarkan pesanan pelanggan.
--page
"Kami bersyukur dan sangat menantikan pengaspalan ini. Di saat jalan lain sudah bagus, di sini baru kali ini tersentuh pembangunan padahal masih termasuk jalan dalam kota," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/Y)









