BORNEONEWS, Sampit - Para petani jagung di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mengeluhkan hasil panen yang tidak maksimal menjelang Tahun Baru 2025. Faktor cuaca ekstrem, yang sempat panas lalu hujan deras hingga banjir, menjadi penyebab utama menurunnya kualitas tanaman jagung.
Muhammad Ansori, salah seorang petani di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, mengatakan panen jagung tahun ini tidak sebaik tahun sebelumnya.
"Jagung biasanya siap panen di usia 68-72 hari. Kalau lebih dari itu, jagung mengeriput. Tetapi tahun ini banyak jagung yang menua sebelum waktu panen karena faktor cuaca. Kadang panas, kadang banjir, sehingga zat asam naik," kata Ansori, Jumat, 27 Desember 2024.
Ia menambahkan, awalnya ia menanam sekitar 2.000 batang jagung. Namun, akibat kondisi tersebut, hanya sekitar 1.300 batang yang bertahan.
"Yang kecil-kecil dipotong supaya sisanya bisa tumbuh bagus. Hari Minggu nanti kami siap panen, dan menjualnya Rp4.000 per biji," tambahnya.
Hal serupa juga dialami oleh Rusmaniah. Ia mengatakan, musim hujan menyebabkan tanaman jagung yang ia tanam tidak dapat tumbuh maksimal.
"Beberapa tanaman menguning karena zat asam yang tinggi. Ada juga yang berulat," ujar Rusmaniah.
Meski demikian, para petani tetap berharap dapat memenuhi permintaan pasar yang biasanya meningkat menjelang Tahun Baru. Harga jagung yang lebih tinggi dibandingkan hari biasa menjadi harapan bagi mereka untuk tetap menanam meskipun menghadapi tantangan cuaca. (DEWI PATMALASARI)









