BORNEONEWS, Sampit – Sejumlah petani sayur di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mengeluhkan hasil panen yang menurun akibat curah hujan tinggi yang hampir setiap hari mengguyur wilayah tersebut. Kondisi ini menyebabkan lahan pertanian terendam air sehingga banyak tanaman sayur mengalami kerusakan.
"Musim hujan yang berlangsung sekitar satu bulan terakhir berdampak buruk pada tanaman sayur. Banyak tanaman cepat layu karena kelebihan air, bahkan ada yang gagal dipanen," kata salah satu petani sayur di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Muhammad Naji, Sabtu, 28 Desember 2024.
Hujan deras yang terus-menerus membuat beberapa lahan pertanian tergenang air, sehingga memicu kerusakan pada tanaman seperti sawi, bayam, dan kangkung. Hal ini berdampak pada hasil panen yang jauh dari harapan.
Naji menambahkan, pasokan sayur mayur ke pasar menjadi berkurang, yang kemudian memicu kenaikan harga. Seperti harga sawi yang biasanya dijual Rp3.000 per ikat kini melonjak hingga Rp15.000 per ikat.
"Harapannya cuaca buruk segera berakhir supaya hasil pertanian bisa kembali normal," ujarnya.
--page
Meski musim kemarau sering dianggap lebih menguntungkan bagi petani, Naji menjelaskan, keberhasilan panen di musim tersebut juga sangat bergantung pada upaya penyiraman rutin untuk menjaga kesuburan tanaman. (DEWI PATMALASARI/Y)









