SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Komandan BKSDA Resor Sampit, Muriansyah, mengimbau masyarakat di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat beraktivitas di sekitar sungai.

"Karena saat ini masih dalam fase musim kawin dan bertelur buaya, yang membuat mereka lebih agresif. Warga perlu berhati-hati, terutama saat beraktivitas di dekat sungai,” kata Muriansyah, Minggu, 29 Desember 2024.

Bahkan beberapa minggu terakhir warga melaporkan 3 kali kemunculan buaya di Sungai Cempaga, kemunculan buaya dekat permukiman warga di Desa Palangan Kecamatan Kota Besi, buaya terekam kamera warga sedang berjemur di Desa Lampuyang Kecamatan Teluk Sampit. Kemudian yang terbaru seekor buaya muara berukuran besar sedang memakan bangkai hewan di tepi Sungai Mentaya, Desa Basirih Hulu, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan.

Fenomena ini biasanya terjadi pada dua bulan terakhir di akhir tahun dan dua bulan pertama di awal tahun. Selama periode ini, buaya lebih sering terlihat, bahkan sering terekam kamera warga. Kondisi ini menuntut warga untuk lebih berhati-hati, terutama dalam menjaga kebersihan dan aktivitas di sekitar sungai.

Muriansyah mengimbau agar tidak membuang sampah atau sisa makanan ke sungai, yang dapat menarik perhatian buaya. Selain itu, pembuatan kandang ternak di tepi sungai juga dilarang untuk mengurangi risiko konflik.

Adapun selama tahun 2024, BKSDA Resor Sampit telah mengevakuasi tiga ekor buaya. Satu ekor buaya ditemukan terjerat jaring warga di Kecamatan Baamang, satu ekor anak buaya di Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, dan satu ekor buaya dewasa yang lama berkeliaran di irigasi London, Kecamatan Pulau Hanaut.

Serangan buaya terhadap manusia juga tercatat tiga kali pada tahun 2024. Kasus pertama terjadi di Desa Satiruk, Kecamatan Pulau Hanaut, di mana korban mengalami luka akibat serangan buaya saat mencuci beras pada 23 Mei 2024. Kasus kedua pada 23 April 2024 saat warga mengalami luka akibat serangan buaya saat sedang merempa atau menjaring ikan di Desa Bapanggang Raya, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang.

Kasus terakhir yang tragis terjadi di Desa Parebok, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, di mana korban meninggal dunia pada 22 Oktober 2024. (DEWI PATMALASARI/H)