PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Berdasarkan pengamatan pada seluruh hotel berbintang di Pulau Kalimantan pada Oktober 2024, tingkat penghunian kamar atau TPK hotel berbintang tertinggi tercatat di Kalimantan Timur sebesar 72,74 persen sementara Kalimantan Tengah menempati posisi kedua yakni 60,67 persen. Sebaliknya, TPK terendah tercatat di Kalimantan Barat dengan angka 52,62 persen.

"Secara nasional, rata-rata TPK hotel berbintang pada bulan Oktober 2024 mencapai 55,67 persen," kata Kepala Badan Pusat Statistik atau BPS Kalteng, Agnes Widiastuti pada Senin, 30 Desember 2024.

Jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya, kata Agnes, TPK hotel berbintang di beberapa provinsi mengalami peningkatan, sementara di provinsi lainnya mengalami penurunan.

"Di Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan, TPK mengalami peningkatan masing-masing sebesar 8,05 poin, 2,43 poin, dan 2,12 poin. Namun, di Kalimantan Utara dan Kalimantan Barat, TPK mengalami penurunan sebesar 3,53 poin dan 0,80 poin," terangnya lagi.

Pada tingkat nasional, lanjut Agnes, rata-rata TPK hotel berbintang pada Oktober 2024 mengalami peningkatan sebesar 0,99 poin dibandingkan bulan sebelumnya, dari 54,68 persen menjadi 55,67 persen. Peningkatan ini menunjukkan adanya perbaikan dalam tingkat hunian hotel berbintang secara keseluruhan di Indonesia.

"Jika dibandingkan dengan bulan yang sama pada tahun sebelumnya, TPK hotel berbintang di Kalimantan Timur mengalami peningkatan tertinggi, yaitu sebesar 10,35 poin. Di sisi lain, Kalimantan Utara mengalami penurunan terdalam, yaitu sebesar 1,03 poin. Secara rata-rata, TPK hotel berbintang di Indonesia pada Oktober 2024 dibandingkan dengan Oktober 2023 mengalami peningkatan sebesar 2,66 poin," jelasnya.

Peningkatan TPK di beberapa provinsi menunjukkan adanya peningkatan minat dan kunjungan wisatawan ke daerah tersebut. Hal ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor, seperti promosi pariwisata yang efektif, peningkatan fasilitas dan layanan hotel, serta kondisi ekonomi yang membaik.

Sebaliknya, penurunan TPK di beberapa provinsi mungkin disebabkan oleh faktor-faktor seperti penurunan jumlah wisatawan, persaingan dengan destinasi lain, atau kondisi ekonomi yang kurang mendukung. Analisis lebih lanjut diperlukan untuk memahami penyebab spesifik dari perubahan TPK di setiap provinsi. (TESTI PRISCILLA/j)