PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Revitalisasi bahasa ibu di Kalimantan Tengah telah menyentuh setidaknya delapan bahasa Dayak. Sejak tahun 2022, Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah telah menggelorakan kembali bahasa ibu melalui berbagai upaya revitalisasi. Puncak dari kegiatan ini adalah Festival Tunas Bahasa Ibu atau FTBI yang diadakan di berbagai daerah.

Kepala Subbagian Umum Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah, Heri Budiono, menjelaskan bahwa secara umum, bahasa ibu atau bahasa daerah di Indonesia relatif terancam.

"Jumlah penutur bahasa ibu semakin sedikit, termasuk di Kalimantan Tengah. Hal ini menjadi perhatian serius bagi kita," kata Budiono pada Senin, 30 Desember 2024.

Kalimantan Tengah memiliki wilayah yang luas namun jumlah penduduk yang relatif sedikit. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalimantan Tengah, jumlah penduduk di provinsi ini hanya sekitar 2,81 juta orang, hampir setara dengan jumlah penduduk di Kota Jakarta Timur. Di sisi lain, terdapat 23 bahasa ibu di Kalimantan Tengah dengan jumlah penutur yang diperkirakan semakin berkurang.

"Di Jawa, jumlah penutur bahasa daerah juga mengalami penurunan, meskipun jumlahnya masih mencapai puluhan juta. Salah satu penyebabnya adalah tidak diajarkannya lagi bahasa daerah di sekolah serta menurunnya intensitas penggunaan bahasa tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, upaya revitalisasi menjadi sangat penting untuk dilakukan," tegasnya.

Heri Budiono menekankan pentingnya revitalisasi bahasa ibu untuk menjaga keberlangsungan bahasa daerah. Dengan adanya revitalisasi, diharapkan jumlah penutur bahasa ibu dapat meningkat dan bahasa daerah dapat terus dilestarikan. Festival Tunas Bahasa Ibu menjadi salah satu langkah konkret dalam upaya ini.

"Revitalisasi bahasa ibu di Kalimantan Tengah tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan jumlah penutur, tetapi juga untuk memperkuat identitas budaya Dayak," katanya.

Dengan menjaga bahasa ibu, budaya Dayak dapat terus hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Upaya ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi pelestarian bahasa dan budaya di Kalimantan Tengah. (TESTI PRISCILLA/j)