BORNEONEWS, Palangka Raya - Penyuluh bahasa di Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah, Natasya Atmim menjelaskan bahwa upaya revitalisasi bahasa daerah telah dimulai sejak tahun 2022. Pada tahap awal, empat bahasa yang direvitalisasi adalah Dayak Ngaju, Dayak Maanyan, Melayu Dialek Kotawaringin, dan Dayak Ot Danum. Seiring berjalannya waktu, jumlah bahasa yang direvitalisasi bertambah menjadi delapan bahasa sepanjang periode 2023-2024.
"Empat bahasa tambahan yang direvitalisasi adalah Dayak Bakumpai, Dayak Katingan, Dayak Sampit, dan Dayak Siang. Natasya menjelaskan bahwa bahasa Dayak Siang hanya dituturkan di Kabupaten Murung Raya, sementara bahasa Dayak Ot Danum dituturkan di Kabupaten Gunung Mas dan Murung Raya. Hal ini menunjukkan bahwa wilayah tuturan bahasa-bahasa tersebut cukup terbatas," kata Natasya pada Senin, 30 Desember 2024.
Proses revitalisasi bahasa daerah ini, kata Natasya, melibatkan delapan tahapan. Tahapan pertama adalah rapat koordinasi, diikuti dengan diskusi kelompok terpusat untuk menentukan bahasa-bahasa yang akan direvitalisasi. Diskusi ini melibatkan maestro bahasa dan akademisi untuk memastikan bahwa bahasa yang dipilih adalah bahasa yang benar-benar membutuhkan revitalisasi.
"Rapat koordinasi dan diskusi kelompok terpusat ini nantinya akan menghasilkan guru utama bahasa ibu. Guru utama ini bisa berasal dari berbagai latar belakang, namun sebagian besar adalah penutur asli bahasa daerah yang akan direvitalisasi. Mereka akan menjadi ujung tombak dalam upaya menghidupkan kembali bahasa-bahasa tersebut," jelasnya.
Selain itu, guru utama bahasa ibu juga akan mendapatkan bimbingan teknis agar mereka dapat mengajarkan bahasa ibu kepada guru-guru di sekolah. Dari guru kelas, bahasa ibu akan diajarkan kepada murid-murid. Guru utama juga diharapkan memiliki komunitas atau forum sehingga mereka dapat menyebarkan bahasa ibu ke komunitas atau forum tersebut.
"Pengimbasan bahasa ini menjadi aspek penting dalam proses revitalisasi. Berdasarkan catatan Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah, sejak tahun 2022, proses revitalisasi bahasa daerah telah berdampak pada 47.514 orang yang terdiri dari peserta didik, anggota komunitas, hingga partisipan. Proses ini diharapkan dapat terus berlanjut agar bahasa daerah tetap lestari dan tidak punah," tuturnya. (TESTI PRISCILLA/j)









