BORNEONEWS, Palangka Raya - Kepunahan bahasa daerah benar-benar terjadi, terutama di daerah-daerah terpinggirkan.
"Fenomena ini menjadi perhatian serius karena bahasa daerah merupakan bagian penting dari identitas budaya dan sejarah suatu komunitas. Banyak bahasa daerah yang kini berada di ambang kepunahan karena berbagai faktor, termasuk urbanisasi, globalisasi, dan kurangnya penggunaan dalam kehidupan sehari-hari," kata Kepala Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah, Muhammad Muis pada Selasa, 31 Desember 2024.
Untuk mengatasi masalah ini, Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah menurut Muis melakukan berbagai kegiatan yang bertujuan untuk merevitalisasi bahasa dan sastra daerah. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui program revitalisasi yang telah berjalan selama tiga tahun terakhir.
"Program ini fokus pada delapan bahasa dan satu dialek yang terancam punah, dengan harapan dapat memperpanjang umur bahasa-bahasa tersebut dan mengembalikan penggunaannya dalam masyarakat," jelas Muis.
Salah satu metode yang digunakan dalam program revitalisasi ini adalah melalui penerbitan buku cerita anak dwibahasa. Buku ini tidak hanya berfungsi sebagai alat pembelajaran, tetapi juga sebagai sarana untuk memperkenalkan kembali bahasa daerah kepada generasi muda.
--page
"Dengan adanya buku cerita dwibahasa, diharapkan anak-anak dan remaja dapat lebih tertarik untuk mempelajari dan menggunakan bahasa daerah mereka," tutur Muis lagi.
Peluncuran buku cerita dwibahasa pada Desember 2024 ini merupakan salah satu tahapan penting sebelum buku tersebut diterbitkan secara luas. Acara peluncuran ini biasanya melibatkan berbagai pihak, termasuk penulis, penerbit, dan komunitas lokal. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya melestarikan bahasa daerah dan memberikan dukungan moral kepada mereka yang terlibat dalam upaya ini. (TESTI PRISCILLA/Y)









