BORNEONEWS, Sampit – Tokoh pemuda Kecamatan Seranau, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Sardi Fakhri Rakhman, menyuarakan kekecewaannya atas pembatalan rencana pembangunan Jembatan Mentaya dan lambatnya realisasi perbaikan menyeluruh dermaga feri penyeberangan yang dapat mengangkut kendaraan roda empat. Janji pembangunan ini telah lama dinantikan masyarakat, namun hingga kini belum ada kejelasan.
"Kami sangat kecewa dengan pembatalan pembangunan Jembatan Mentaya yang merupakan proyek strategis untuk pemerataan pembangunan wilayah timur. Selain itu, janji perbaikan dermaga feri untuk penyeberangan kendaraan roda empat juga tak kunjung terwujud. Ini janji yang sudah bertahun-tahun kami tunggu," kata Fakhri, Jumat, 3 Januari 2025.
Ia meminta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotawaringin Timur (Kotim) memberikan penjelasan jelas terkait pembatalan proyek yang menjadi kebutuhan mendasar masyarakat Seranau.
Kecamatan ini dikenal sebagai kampung tertua di Kotim, namun ketimpangan pembangunan masih terasa hingga kini, meskipun hanya terpisah oleh Sungai Mentaya dari pusat kota.
Jika pun rencana pembangunan Jembatan Mentaya penghubung Kecamatan Seranau dengan pusat kota tersebut gagal, seharusnya pemerintah daerah serius merealisasikan janji pembangunan dermaga yang dapat dilalu kendaraan roda empat. Ia mendesak Pemkab Kotim memberikan timeline pasti untuk pembangunan tersebut, sehingga masyarakat tidak hanya mendengar janji-janji saja.
"Selama ini, masyarakat hanya diberikan janji-janji tanpa kepastian. Kami ingin tahu kapan pembangunan dermaga ini akan benar-benar dilakukan. Sudah dua tahun berlalu sejak janji itu, tetapi belum ada tanda-tanda keseriusan," tambahnya.
Fakhri juga menyoroti pentingnya komunikasi dan keterbukaan informasi antara Pemkab Kotim kepada masyarakat Seranau. Ia berharap dengan adanya komunikasi yang lebih baik, pemerataan pembangunan bisa segera terwujud.
Ia menegaskan, pembangunan akses transportasi yang baik untuk masyarakat Seranau dinilai sangat penting untuk meningkatkan kualitas hidup dan perekonomian warga. Dermaga yang representatif untuk kendaraan roda empat menjadi prioritas utama mengingat fasilitas ini menjadi akses vital bagi warga untuk terhubung dengan pusat kota.
"Kami butuh pemerataan pembangunan, terutama infrastruktur. Ini bukan hanya soal janji, tetapi tentang kesejahteraan masyarakat," tegasnya.
Adapun saat ini, warga Kecamatan Seranau hanya dapat menikmati akses tercepat menuju Sampit dengan feri penyeberangan maksimal mampu menampung kendaraan roda 2. Sementara untuk jalur darat harus memutar melalui Kecamatan Cempaga yang memerlukan waktu tempuh lebih lama. (DEWI PATMALASARI/j)









