PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Kelompok makanan, minuman, dan tembakau di Provinsi Kalimantan Tengah pada Desember 2024 mengalami inflasi year-on-year atau y-on-y sebesar 1,71 persen.

"Ini berarti terjadi kenaikan indeks dari 108,49 pada Desember 2023 menjadi 110,34 pada Desember 2024. Inflasi ini menunjukkan adanya peningkatan harga pada kelompok ini selama satu tahun terakhir," kata Kepala Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalteng, Agnes Widiastuti menyampaikan berita resmi statistik pada Kamis, 2 Januari 2025.

Menurut Agnes, subkelompok yang mengalami inflasi y-on-y tertinggi adalah subkelompok minuman yang tidak beralkohol, dengan kenaikan sebesar 5,49 persen. Sebaliknya, subkelompok makanan mengalami inflasi y-on-y terendah, yaitu sebesar 0,91 persen.

"Hal ini menunjukkan bahwa harga minuman non-alkohol mengalami peningkatan yang lebih signifikan dibandingkan dengan harga makanan," katanya.

Pada Desember 2024, kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil atau sumbangan inflasi y-on-y sebesar 0,65 persen. Beberapa komoditas yang dominan memberikan andil inflasi y-on-y antara lain Sigaret Kretek Mesin (SKM) sebesar 0,18 persen, ikan gabus dan bawang merah masing-masing sebesar 0,15 persen, serta minyak goreng sebesar 0,11 persen.

Selain itu, kopi bubuk memberikan andil inflasi y-on-y sebesar 0,10 persen, sementara ikan patin dan terong masing-masing memberikan andil sebesar 0,07 persen. Komoditas lainnya seperti beras, udang basah, bawang putih, gula pasir, dan telur ayam ras masing-masing memberikan andil sebesar 0,05 persen. Sigaret Kretek Tangan (SKT) dan bayam masing-masing memberikan andil sebesar 0,04 persen, sedangkan tomat, ikan baung, air kemasan, ikan nila, kacang panjang, dan ayam hidup masing-masing memberikan andil sebesar 0,02 persen.

"Di sisi lain, beberapa komoditas memberikan andil deflasi y-on-y, yaitu daging ayam ras sebesar 0,44 persen, cabai rawit sebesar 0,21 persen, ikan peda dan ikan papuyu masing-masing sebesar 0,04 persen, serta cabai merah sebesar 0,03 persen," kata Agnes lagi.

Komoditas lainnya seperti pepaya, rampela hati ayam, semangka, daun singkong, susu bubuk untuk balita, ikan lele, pisang, ikan selar/ikan tude, ikan layang/ikan benggol, ikan bandeng/ikan bolu, susu bubuk untuk bayi, dan ikan asin sepat masing-masing memberikan andil deflasi sebesar 0,01 persen.

Sementara itu, kelompok ini pada Desember 2024 juga memberikan andil inflasi month-to-month (m-to-m) sebesar 0,51 persen. Beberapa komoditas yang dominan memberikan andil inflasi m-to-m antara lain ikan gabus sebesar 0,09 persen, bawang merah sebesar 0,05 persen, serta bayam, ikan nila, terong, dan beras masing-masing sebesar 0,04 persen. Komoditas lainnya seperti kangkung, ikan asin sepat, telur ayam ras, tomat, cabai rawit, dan sawi hijau masing-masing memberikan andil sebesar 0,02 persen.

"Sedangkan minyak goreng, udang basah, ikan baung, ikan lais, bawang putih, kopi bubuk, ikan bawal, dan jagung manis masing-masing memberikan andil sebesar 0,01 persen. Di sisi lain, beberapa komoditas memberikan andil deflasi m-to-m, yaitu ketimun, ikan tongkol/ikan ambu-ambu, ikan saluang, semangka, dan ikan peda masing-masing sebesar 0,01 persen" terangnya. (TESTI PRISCILLA/j)