BORNEONEWS, Sampit – Wakil Ketua II DPRD Kotawaringin Timur (Kotim) Rudianur menyoroti rendahnya realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kotim selama tahun 2024.
Berdasarkan data dari Dashboard Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kotim, capaian PAD pada 2024 hanya mencapai 48,42 persen atau Rp283,32 miliar dari target sebesar Rp585,14 miliar.
Salah satu sektor dengan capaian terendah adalah Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), yang hanya terealisasi 6,92 persen atau Rp24,21 miliar dari target Rp349,98 miliar.
"Saya rasa evaluasi sudah sering dilakukan, tetapi realisasi PAD tetap jauh dari target. Jika hanya mencapai 48 persen, ini di bawah standar. Seharusnya target itu bisa dicapai. Kita harus melihat bagaimana di tahun 2025 nanti pemerintah daerah bersama tim anggaran eksekutif dan DPRD bisa mencari solusi agar PAD terus digenjot," kata Rudianur, Minggu, 5 Januari 2025.
Perlu langkah-langkah konkret untuk mengatasi rendahnya realisasi PAD, terutama dari sektor-sektor yang memiliki potensi besar seperti BPHTB.
Ia meminta pemerintah daerah untuk lebih inovatif dalam menggali sumber-sumber pendapatan baru sekaligus memperbaiki sistem pengelolaan dan pengawasan di lapangan.
"Target PAD harus dicapai, bukan hanya sekadar angka," tambahnya.
BPHTB sebagai salah satu penyumbang utama PAD dianggap memiliki potensi besar, namun pencapaiannya yang hanya 6,92 persen menunjukkan adanya kendala signifikan. Menurut Rudianur, hambatan ini harus diidentifikasi secara jelas dan ditangani secara sistematis.
Ia juga mengusulkan agar sektor lain yang memiliki potensi besar, mendapat perhatian lebih serius untuk mendukung target PAD.
"Tahun 2025 harus menjadi titik balik. Pemerintah daerah harus memiliki strategi yang lebih tajam untuk mengejar target PAD. Ini bukan hanya soal angka, tetapi bagaimana memanfaatkan potensi daerah untuk kesejahteraan masyarakat," tutupnya. (DEWI PATMALASARI/H)









