BORNEONEWS, Sampit - Sebuah peristiwa teragis menimpa keluarga korban pemerkosaan yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) ini. Karena dugaan aksi itu, menyebabkan korban meninggal dunia, pada 19 Mei 2023 yang lalu.
Meskipun sudah hampir dua tahun kasus ini berjalan. Namun, hingga saat ini belum ada titik terang dan kejelasan hukum bagi pelaku. Keluarga korban sangat berharap pelaku dapat dihukum yang seadil adilnya.
Ibu korban menceritakan tidak hanya kehilangan seorang anak. Dirinya juga sering mendapat ancaman dari pelaku yang hingga saat ini tidak mengakui perbuatannya tersebut.
Bahkan, rumah ibu korban sempat dibakar oleh terduga pelaku. Ibu korban yang sehari-hari bekerja sebagai ibu rumah tangga ini mengaku telah beberapa kali mendatangi Polres Kotim untuk menanyakan perihal kasus yang menimpa anaknya ini.
Tetapi, dirinya harus menerima kenyataan dan pulang dengan jawaban yang tidak memuaskan dari pihak kepolisian.
"Pelaku sampai saat ini masih mengancam saya. Dia juga sempat meminta damai dengan memberikan satu buah rumah, tetapi saya tidak mau. Saya ingin pelaku mendapat hukuman setimpal," tegas ibu korban, Jumat, 10 Januari 2024.
Ibu korban juga menceritakan, kejadian ini berawal saat itu korban baru pulang sekolah. Kemudian, dia bermain disekitar rumah. Tidak, lama korban dibawa oleh pelaku ke daerah Kecamatan Baamang, Kabupaten Kotim.
"Saya sempat melarang. Tapi, tidak lama setelah itu dia sudah tidak ada, ternyata langsung dibawa oleh pelaku dengan alasan katanya ingin diberikan pekerjaan," ungakp Katry.
Setelah sampai di daerah Kecamatan Baamang, ternyata korban dibawa ke salah satu barak milik anak pelaku. Di dalam barak tersebut korban di rudapaksa oleh pelaku hingga mengalami depresi.
"Anak saya dikurung didalam barak itu, beruntung saat itu ada kesempatan untuk keluar. Dia langsung meminta pertolongan ke pada warga sekitar untuk menghubungi saya," jelasnya.
Ibu korban yang mengetahui keberadaan korban, bergegas menjemput korban yang saat itu sudah dalam kondisi sangat ketakutan. Serta menuju Polres Kotim untuk membuat laporan pada saat itu.
"Nah setelah kejadian ini kondisi anak saya berubah sangat drastis. Dia sering menyendiri dan melihat orang lain ketakutan. Pada akhirnya, 3 bulan setelah kejadian ini anak saya meninggal dunia," tangis ibu korban.
Ibu korban hanya bisa berharap kepada pihak kepolisian, agar dapat memberikan keadilan atas kejadian ini. Karena menurutnya saat ini pelaku masih bebas berkeliaran.
"Semoga pelaku ini cepat ditangkap dan mendapatkan hukuman yang setimpal. Karena, yang saya alami saat ini cukup berat sudah kehilangan anak saya," harapnya. (BUDDI RAHMAT H/H)









