SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Suasana di Ikon Jelawat Sampit malam itu, Sabtu, 11 Januari 2025, berbeda dari malam-malam sebelumnya. Kendaraan roda 2 dan roda empat berdesak-desakan berebut parkir di sepanjang Jalan Iskandar. Ribuan pengunjung pun tampak berdesak-desakan berebut masuk ke taman dengan ikon patung jelawat besar tersebut.

Nampak dari kejauhan, lampu LED berkelap-kelip dari kelotok-kelotok yang bersandar di dermaga Habaring Hurung belakang Pasar Pusat Perbelanjaan Mentaya (PPM) Sampit. Nampaknya kendaraan sungai tersebut sengaja dihias dengan berbagai lampu dengan bentuk yang unik. Kelotok tersebut dipersiapkan untuk mengikuti kegiatan Wahana Susur Sungai Cahaya Mentaya atau karnaval Klotok Susur Sungai.

Ide kreatif tersebut muncul dari keresahan para pemuda di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) yang selama ini terus dikaitkan dengan isu narkoba. Para pemuda terdorong untuk menggagas kegiatan yang akan memberikan dampak positif bagi lingkungannya.

"Jadi awal ide kegiatan ini bermula dari keresahan kami. Semakin lama pemuda identik dengan narkoba. Dari keresahan itu kita coba kreatif, kita lirik potensi pariwisata di Kotim kita gerakkan dengan dana swadaya dati masyarakat," kata Ketua Panitia Wahana Susur Sungai Cahaya Mentaya Ahmad Fikri Syifa.

Kegiatan yang digelar mulai 11-20 Januari 2025 tersebut diikuti kurang lebih 36 kelotok-kelotok hias. Tak hanya itu, kegiatan bertajuk Sampit Creative Gen tersebut juga menghadirkan 16 pelaku UMKM di kawasan Ikon Jelawat. 

Pengunjung dapat menikmati suasana susur Sungai Mentaya malam hari dengan harga sewa Rp200 ribu/klotok kapasitas maksimal 7 orang. 

"Kita mempersiapkan kegiatan ini mulai Oktober 2024, banyak tantangan yang kami hadapi terutama perizinan, kita terus ikuti prosedur yang ada dan menerima masukan dari pimpinan daerah yang sangat mensupport kegiatan ini," ujar Fikri. 

Wakil Bupati Kotim Irawati, berkesempatan membuka kegiatan yang merupakan rangkaian HUT ke-72 Kotim tersebut. Turut hadir Anggota DPRD Kotim Angga Aditya Nugraha dan Ketua Dekranasda Kotim Khairiah Halikinnor. 

"Ini ide kreatif bagian dari inovasi suatu komunitas atau kelompok pemuda yang ada di Kotim yang berani berkolaborasi dengan pemerintah daerah dan pihak ketiga untuk mengadakan acara sebesar ini," kata Irawati yang juga turut menikmati susur Sungai Mentaya menggunakan klotok hias.

Ia berharap, kegiatan tersebut menjadi agenda rutinan setiap tahun dan disosialisasikan lebih luas kepada masyarakat. Sehingga menjadi daya tarik wisata lokal maupun luar daerah.

"Kami mendukung penuh atas apa yang diselenggarakan bahwa ini adalah kreativitas anak-anak muda Kotim," tambahnya.

Karnaval kelotok hias ini diharapkan menjadi salah satu upaya agar wisata susur Sungai Mentaya terus hidup. Bahkan yang selama ini mayoritas hanya dinikmati warga Kotim diharapkan dapat menarik wisatawan luar daerah. (DEWI PATMALASARI/j)