SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menyoroti dua isu besar yang tengah menjadi perhatian masyarakat, yaitu kondisi di Lapas Sampit dan kasus asusila yang menimpa pelajar SD hingga meninggal dunia.

“Dalam rapat tadi, kami membahas beberapa perubahan, termasuk penugasan dari Ketua Umum kepada saya sebagai Wakil Ketua 5 untuk menjadi Plt Ketua DAD Kotim. Salah satu prioritas kami adalah membangun koordinasi yang lebih intens di antara pengurus sesuai dengan aturan yang berlaku,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Ketua DAD Kotim, Gahara, Sabtu, 11 Januari 2025.

Gahara menyoroti laporan terkait kondisi di Lapas Sampit, di mana terdapat dominasi dari narapidana etnis tertentu. “Kami mendapatkan laporan mengenai etnis tertentu yang menguasai situasi di Lapas. Hal ini menimbulkan keresahan. Kami akan segera berkomunikasi dengan pihak Lapas untuk memastikan tidak ada potensi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) di wilayah ini,” ujarnya.

Gahara mengingatkan pentingnya menjaga stabilitas di Kotim agar kejadian kerusuhan besar yang pernah terjadi di wilayah tersebut tidak terulang. “Sebagai DAD, kami memiliki kewenangan untuk menjalin komunikasi dengan berbagai pihak demi menjaga harmoni,” tambahnya.

Selain itu, DAD Kotim juga memberikan perhatian serius terhadap kasus asusila yang menimpa seorang anak SD hingga meninggal dunia. Gahara menyatakan, pihaknya siap membantu aparat penegak hukum dalam mengungkap dan menyelesaikan kasus tersebut.

“Kami akan terus berkoordinasi dengan pihak berwenang. Dalam kapasitas kami sebagai lembaga adat, kami berkomitmen untuk mendukung upaya penegakan hukum dan membantu mencari solusi atas masalah ini,” tegasnya.

Adapun, Gahara menjalankan tugas sebagai Plt Ketua DAD Kotim sejak 6 Januari 2025 hingga 6 Juni 2025. Selama masa jabatannya, ia bertanggung jawab untuk mengoordinasikan para wakil ketua dan pengurus lainnya.

“Kami berharap melalui koordinasi yang lebih baik, DAD Kotim dapat berkontribusi maksimal dalam menjaga adat, budaya, serta stabilitas di Kotim,” tutup Gahara. (DEWI PATMALASARI/j)