BORNEONEWS, Palangka Raya – Amelia Santy, biduan dangdut asal Kalimantan Tengah, mengecam keras normalisasi pelecehan seksual yang terjadi di masyarakat, khususnya setelah dirinya diduga menjadi korban pelecehan oleh seorang oknum kepala sekolah SMA di Palangka Raya.
Setelah melaporkan kejadian tersebut kepada pihak berwajib, Amelia Santy mengaku menerima banyak hujatan dan komentar yang menormalisasi tindakan pelecehan tersebut, dengan alasan profesinya sebagai biduan.
"Banyak yang menghujat dan menormalisasi tindakan pelaku, padahal saya korban," ungkap Amelia Santy, Minggu, 12 Januari 2025.
Ia menjelaskan bahwa hampir seluruh postingan media sosialnya dipenuhi komentar negatif dari netizen, bahkan ia sempat mengunggah tangkapan layar komentar-komentar yang menormalisasi pelecehan yang dialaminya.
Amelia Santy menegaskan bahwa profesinya sebagai penyanyi dangdut tidak membenarkan tindakan pelecehan seksual yang menimpanya.
"Saya penyanyi yang menghibur, bukan wanita penghibur," tegasnya.
Ia memberikan contoh kasus pelecehan seksual yang menimpa berbagai kalangan wanita di Indonesia, termasuk santriwati yang mengenakan pakaian tertutup. Ia mempertanyakan mengapa korban selalu disalahkan, terlepas dari profesi dan pakaian yang dikenakan.
Amelia Santy mengajak masyarakat untuk berhenti menormalisasi pelecehan seksual dan menyadari bahwa setiap perempuan, apapun profesinya, rentan menjadi korban.
Ia juga mendorong para korban pelecehan seksual untuk berani melapor, agar pelaku tidak beraksi seenaknya.Ia berharap kasusnya dapat menjadi pembelajaran bagi masyarakat untuk lebih peduli dan menghentikan normalisasi pelecehan seksual.
"Dari kasus ini, saya mengajak seluruh wanita untuk berani melapor jika menjadi korban pelecehan," tutup Amelia Santy. (PATHUR/j)









