BORNEONEWS, Palangka Raya - Sejak 1 Januari 2025 harga daging babi di Palangka Raya mengalami kenaikan yang signifikan. Harga yang sebelumnya berkisar antara Rp110.000 hingga Rp120.000 per kilogram, pada Senin, 13 Januari 2025 melonjak menjadi Rp150.000 per kilogram. Kondisi ini terutama terjadi di Pasar PU, salah satu pasar tradisional Palangka Raya yang memiliki puluhan pedagang daging babi.
Kenaikan harga ini tentu menjadi perhatian bagi masyarakat yang mengandalkan daging babi sebagai salah satu sumber protein utama dalam konsumsi sehari-hari.
Tidak hanya daging babi, harga tunjik atau kaki babi juga mengalami kenaikan yang cukup drastis. Sebelumnya, tunjik dihargai Rp80.000 per kilogram, namun kini harganya naik menjadi Rp110.000 per kilogram. Kenaikan harga ini tentu berdampak pada daya beli masyarakat, terutama bagi mereka yang memiliki penghasilan terbatas.
Fenomena kenaikan harga ini terekam di Pasar PU, Palangka Raya, yang merupakan salah satu pasar tradisional utama di kota tersebut. Para pedagang di pasar ini mengakui bahwa kenaikan harga daging babi dan tunjik disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk peningkatan biaya produksi dan distribusi. Selain itu, permintaan yang tinggi menjelang perayaan tahun baru juga turut mempengaruhi kenaikan harga.
"Sejak tanggal 1 Januari sudah naik harganya, sudah tidak bisa lagi Rp120.000, kita jualnya Rp150.000 karena dari distributornya memang sudah naik akibat pasokan juga terbilang sedikit," kata salah seorang pedagang kepada Borneonews.
Para pedagang di Pasar PU berharap agar pemerintah dapat mengambil langkah-langkah untuk menstabilkan harga daging babi dan tunjik. Mereka khawatir jika harga terus naik, masyarakat akan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan protein hewani mereka. Beberapa pedagang bahkan mengaku mengalami penurunan penjualan akibat kenaikan harga yang signifikan ini.
Di sisi lain, masyarakat juga berharap agar ada alternatif sumber protein yang lebih terjangkau. Beberapa warga mengaku mulai beralih ke sumber protein lain seperti ayam dan ikan, yang harganya relatif lebih stabil. Namun, bagi pecinta daging babi, kenaikan harga ini tentu menjadi tantangan tersendiri.
"Kaget juga pas beli kok harganya tinggi sekali padahal cucu lagi minta makan babi. Ya sudah tetap kita belikan walaupun harganya mahal," tutur Ardiano, salah seorang pembeli.
Kenaikan harga daging babi dan tunjik di Palangka Raya ini menjadi salah satu isu penting yang perlu mendapatkan perhatian serius dari berbagai pihak. Diharapkan dengan adanya langkah-langkah yang tepat, harga daging babi dan tunjik dapat kembali stabil sehingga masyarakat dapat memenuhi kebutuhan protein hewani mereka tanpa harus terbebani oleh harga yang tinggi.
Menanggapi hal ini, Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Kesehatan Masyarakat Veteriner, Pengolahan dan Pemasaran Hasil Ternak di Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan atau DPKP Kota Palangka Raya, drh Ganjar Priyatno menuturkan bahwa harga adalah mekanisme pasar.
"Menurut saya sih keterkaitan dengan stok barang saja, berarti stok sedikit. Harga itu mekanisme pasar murni," tutur drh Ganjar. (TESTI PRISCILLA/j)









