PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Kesehatan Masyarakat Veteriner, Pengolahan dan Pemasaran Hasil Ternak di Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan atau DPKP Kota Palangka Raya, drh Ganjar Priyatno mengatakan bahwa harga daging babi yang tinggi saat ini disebabkan oleh stok babi yang sedikit.

"Dua tahun yang lalu, ASF (African Swine Fever) masuk dan hingga sekarang belum ada obat atau vaksin untuk penyakit ini. Akibatnya, populasi babi yang hancur dan turun hingga 90 persen belum pulih sampai sekarang," kata drh Ganjar kepada Borneonews pada Selasa, 14 Januari 2025.

Selain itu, lanjutnya, babi dari luar daerah juga tidak sebanyak dulu. Ada kemungkinan bahwa daerah luar yang biasanya menjadi sumber babi juga terkena serangan ASF.

"Hal ini menyebabkan daerah yang biasanya mengirim babi ke Kalimantan Tengah mengalami penurunan produksi," terangnya.

Dengan berkurangnya produksi babi dari luar daerah, otomatis jumlah babi yang tersedia untuk dipotong di Kalimantan Tengah menurun drastis. Kondisi ini menyebabkan harga daging babi naik sesuai dengan hukum pasar.

Analisa drh Ganjar menunjukkan bahwa stok babi yang menurun akibat ASF dan belum pulih hingga sekarang menjadi faktor utama kenaikan harga daging babi. Ditambah lagi, babi yang masuk dari luar Kalimantan juga berkurang, sehingga stok daging babi semakin menipis.

"Dengan stok yang menipis, harga daging babi naik secara otomatis. Hal ini sesuai dengan hukum pasar di mana ketika permintaan tinggi dan persediaan rendah, harga akan naik. Drh Ganjar menyimpulkan bahwa kondisi ini akan terus berlanjut hingga populasi babi pulih dan produksi kembali normal," tutur drh Ganjar.

Seperti diberitakan sebelumnya, harga daging babi di pasar tradisional Palangka Raya saat ini telah mencapai Rp150.000 per Kg. Kondisi ini telah terjadi sejak tanggal 1 Januari 2025 dan terus berlanjut hingga sekarang. (TESTI PRISCILLA/H)