PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Penyakit mulut dan kuku atau PMK kembali muncul di beberapa daerah di Jawa, termasuk Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Daerah Istimewa Yogyakarta atau DIY.

Sehingga, kewaspadaan terhadap PMK di Kota Palangka Raya pun kembali meningkat.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Kesehatan Masyarakat Veteriner, Pengolahan dan Pemasaran Hasil Ternak di Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan atau DPKP Kota Palangka Raya, drh Ganjar Priyatno mengatakan bahwa situasi ini mengingatkan kita pada tahun 2022-2023 ketika PMK pertama kali muncul dan menyebar dengan cepat.

"Meskipun pada tahun 2023 hingga 2024 PMK sempat terkendali, kini penyakit tersebut kembali menjadi ancaman di wilayah Jawa makanya kewaspadaan di Palangka Raya juga meningkat," kata drh Ganjar kepada Borneonews pada Rabu, 15 Januari 2025.

Drh Ganjar menekankan pentingnya kewaspadaan yang tinggi dalam menghadapi PMK. Pengalaman di tahun 2022 menunjukkan bahwa penularan PMK dapat terjadi dengan sangat cepat, baik antar kota dalam provinsi, antar kota dalam pulau, maupun antar kota antar pulau.

"Oleh karena itu, langkah-langkah pencegahan dan pengendalian harus segera diambil untuk mencegah penyebaran lebih lanjut," tegasnya.

Di Kalimantan Tengah, termasuk Kota Palangka Raya menurut Ganjar kewaspadaan terhadap PMK juga ditingkatkan. Meskipun saat ini belum ada laporan kasus PMK di wilayah tersebut, langkah-langkah pencegahan tetap dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan penyebaran penyakit.
Drh Ganjar mengingatkan bahwa kewaspadaan dan kesiapsiagaan adalah kunci dalam menghadapi ancaman PMK.

Pemerintah daerah di Jawa telah mengambil berbagai langkah untuk mengendalikan penyebaran PMK. Salah satunya adalah dengan meningkatkan pengawasan terhadap hewan ternak dan memperketat peraturan lalu lintas hewan. Selain itu, vaksinasi massal juga dilakukan untuk meningkatkan kekebalan hewan ternak terhadap PMK.
 

"Masyarakat terutama peternak kita imbau untuk turut serta dalam upaya pencegahan PMK dengan melaporkan segera jika menemukan gejala PMK pada hewan ternak. Gejala PMK meliputi lepuh pada mulut dan kuku, demam, dan penurunan produksi susu pada sapi perah. Dengan kerjasama antara pemerintah, peternak, dan masyarakat, diharapkan penyebaran PMK dapat dikendalikan," katanya.

Drh Ganjar berharap dengan adanya kewaspadaan yang tinggi dan langkah-langkah pencegahan yang tepat, PMK dapat segera diatasi dan tidak menyebar lebih luas.

"Kita harus belajar dari pengalaman sebelumnya dan selalu siap menghadapi ancaman penyakit ini," ujarnya. (TESTI PRISCILLA/H)