BORNEONEWS, Palangka Raya - Tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk Kalimantan Tengah menunjukkan peningkatan yang diukur melalui gini ratio pada September 2024.
Data menunjukkan angka gini ratio mencapai 0,304, yang meningkat sebesar 0,003 poin dibandingkan dengan gini ratio pada Maret 2024 yang tercatat sebesar 0,301. Hal ini menandakan adanya kenaikan ketimpangan pengeluaran di wilayah tersebut dalam kurun waktu enam bulan.
"Pada September 2024, tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk Kalimantan Tengah yang diukur menggunakan gini ratio adalah sebesar 0,304. Angka ini meningkat 0,003 poin jika dibandingkan dengan gini ratio Maret 2024 yang sebesar 0,301," kata Kepala Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti pada Rabu, 15 Januari 2025.
Kali ini Kepala BPS Kalteng menyampaikan berita resmi statistik didampingi oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan atau Ekbang Sekretaris Daerah Provinsi Kalteng, Sri Widanarni di kantor BPS Kalteng.
Gini ratio di daerah perkotaan juga menunjukkan tren peningkatan. "Pada September 2024, gini ratio di perkotaan tercatat sebesar 0,322, yang meningkat dari 0,311 pada Maret 2024. Peningkatan ini mengindikasikan bahwa ketimpangan pengeluaran di daerah perkotaan Kalimantan Tengah semakin melebar dalam periode yang sama," kata Agnes lagi.
Namun berbeda halnya dengan daerah perdesaan. Gini ratio di daerah perdesaan pada September 2024 mengalami penurunan menjadi 0,282, dibandingkan dengan 0,288 pada Maret 2024.
Kondisi ini menunjukkan bahwa ketimpangan pengeluaran di daerah perdesaan mengalami perbaikan atau penyempitan dalam jangka waktu enam bulan tersebut.
"Berdasarkan ukuran ketimpangan yang digunakan oleh Bank Dunia, distribusi pengeluaran pada kelompok penduduk 40 persen terbawah di Kalimantan Tengah adalah sebesar 21,88 persen. Angka ini mencerminkan bagaimana pengeluaran penduduk yang kurang mampu berkontribusi terhadap total pengeluaran di wilayah Kalteng," katanya.
Ketika data tersebut dirinci berdasarkan daerah, terlihat bahwa di daerah perkotaan, distribusi pengeluaran kelompok penduduk 40 persen terbawah tercatat sebesar 20,58 persen.
Kondisi ini menunjukkan bahwa kelompok penduduk terbawah di perkotaan memiliki porsi pengeluaran yang lebih rendah dibandingkan dengan total pengeluaran di daerah tersebut.
Sementara itu, di daerah perdesaan, distribusi pengeluaran kelompok penduduk 40 persen terbawah tercatat sebesar 23,12 persen.
Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan daerah perkotaan, menandakan bahwa penduduk yang kurang mampu di perdesaan memiliki porsi pengeluaran yang lebih besar terhadap total pengeluaran di wilayah perdesaan Kalimantan Tengah.(TESTI PRISCILLA/R)









